Feeds:
Tulisan
Komentar

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker
Titik Nol (74): Istirahat
India
Kamis, 13 November 2008 | 06:11 WIB

Jaipur, kota merah jambu.

Jaipur, kota merah jambu.

Setumpuk masalah visa dan bencana bom di New Delhi membuat saya lelah. Saya ingin istirahat, menenangkan pikiran. Rajasthan adalah pilihannya.

“Kamu yakin mau ke Rajasthan untuk menenangkan diri?” tanya Lam Li “kamu mesti ingat, India sama sekali bukan tempat untuk bersantai. Nanti jadinya malah kamu yang stress.” Lam Li, si petualang cewek dari Malaysia, baru saja datang kemarin dari Varanasi dan tak sengaja menginap di losmen yang sama dengan saya. Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker
Titik Nol (73): Bom
India

Rabu, 12 November 2008 | 08:23 WIB

Ledakan dahsyat di Paharganj meluluhlantakkan pasar yang selalu ramai ini

Ledakan dahsyat di Paharganj meluluhlantakkan pasar yang selalu ramai ini

New Delhi berguncang. Bom meledak nyaris berbarengan di berbagai penjuru kota. Keramaian pasar Paharganj yang dibanjiri ribuan orang berbelanja menjelang hari raya Diwali dan Idul Fitri tiba-tiba terkoyak oleh aliran darah.

Paharganj, distrik kumuh di dekat stasiun kereta api New Delhi, adalah salah satu pusat perbelanjaan murah di ibu kota. Toko pakaian grosir berbaris sepanjang jalan sempit. Losmen murah, wisma, toko buku, warung internet dan telepon, melengkapi keriuhan pasar ini, membuat tempat ini menjadi pilihan utama backpacker miskin.. Jalan bolong-bolong, sapi yang melenggang santai, bajaj butut dan mobil tua meraung-raung menyumpahi kemacetan di jalan kecil. Belum lagi orang-orang yang memenuhi jalan mencari barang-barang murah. Paharganj adalah sebuah dunia tersendiri. Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker
Titik Nol (60): High Camp
Nepal

Jumat, 24 Oktober 2008 | 07:06 WIB

Menuju puncak.

Menuju puncak.

Perjuangan kami hampir mencapai titik kulminasi. Di ketinggian ini, langit sudah begitu dekat. Kami sudah nyaris sejajar dengan puncak-puncak salju di seberang sana. Tetapi justru di tempat ini, kaki semakin berat dan semangat menggebu-gebu tertekan oleh udara berat.

Thorung Pedi adalah desa tertinggi di Sirkuit Annapurna. Ketinggiannya 4450 meter, hanya dua jam perjalanan dari Letdar melalui jalan batu yang berlekuk-lekuk. Tanaman tak nampak sama sekali. Gunung batu yang kami lewati hanya satu warna – muram kelabu. Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker
Titik Nol (59): Vegetarian Seumur Hidup
Nepal

Kamis, 23 Oktober 2008 | 01:16 WIB

Para porter bermain kartu mengisi senja yang dingin.

Para porter bermain kartu mengisi senja yang dingin.

Kabut mulai turun menyelimuti barisan pegunungan Annapurna III dan Gangapurna. Tak ada lagi yang tampak kecuali putih yang sempurna. Kami bertiga memutuskan untuk terus berangkat menuju puncak.

“Tak perlu kita memforsir tenaga,” kata Jörg, “kita sudah mengirit satu hari di Manang, hari ini kita cukup berjalan satu desa saja sampai ke Letdar.”

Pada ketinggian ini, desa semakin jarang dan berjauhan. Gunsang sudah hampir mencapai empat ribu meter, sudah jauh lebih tinggi daripada Gunung Semeru. Pepohonan sudah lenyap, berganti tanaman rumput. Orang Newar sudah tak nampak, yang ada cuma orang Tibet, Tamang, dan Gurung – semuanya orang gunung yang tangguh, bahan baku pasukan Ghurka yang tersohor di seluruh dunia. Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Bakcpacker
Titik Nol (49): Sirkuit Annapurna
Nepal
Kamis, 9 Oktober 2008 | 06:07 WIB

Menuju puncak salju di atas sana.

Menuju puncak salju di atas sana.

Bagi sebagian besar turis asing, Nepal berarti gunung. Negeri ini memang mungil kalau dilihat secara horizontal. Dilihat dari sudut vertikal, Nepal berada dalam jajaran atas negara tertinggi di dunia.

Annapurna adalah serangkaian puncak Himalaya terletak di bagian barat Nepal. Annapurna I, puncak tertingginya mencapai 8.000 meter, dikelilingi saudara-saudaranya yang di atas 7.000 meter, senantiasa diselimuti salju dan memancarkan keagungan yang menjadi magnet datangnya turis ke negeri ini. Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Bakcpacker
Titik Nol (48): Istana di Puncak Bukit
Nepal
Rabu, 8 Oktober 2008 | 08:29 WIB

Gorkha Durbar di puncak bukit.

Gorkha Durbar di puncak bukit.

Tentara Gurkha berasal dari kota perbukitan yang sunyi ini. Raja besar Nepal, Prithvi Narayan Shah, lahir di sini. Sekarang kota kecil Gorkha masih menjadi salah satu basis pertahanan penting Kerajaan Nepal.

Seperti Kathmandu, Bhaktapur, dan Patan yang masing-masing punya Durbar Square, Gorkha pun punya. Gorkha Durbar terletak di puncak bukit, sekitar dua jam perjalanan mendaki, di daerah yang dijaga ketat oleh tentara Nepal. Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker
Titik Nol (47): Pernikahan Seorang Kawan
Nepal

Selasa, 7 Oktober 2008 | 07:51 WIB

Gorkha, alamnya seperti Indonesia.

Gorkha, alamnya seperti Indonesia.

Kami sampai di kota Gorkha, asal muasal nama tentara Gurkha yang termasyhur di seluruh dunia itu. Bukan untuk mencari pasukan, tetapi untuk menonton acara pernikahan.

Namanya Deepak. Umurnya seumuran dengan saya. Ia bicara bahasa Melayu patah-patah, tetapi lagak bicaranya seperti bos besar saja, mungkin belajar dari majikannya di Johor Bahru.

“Nanti di Gorkha boleh tengok orang kawin, you know! Gorkha jauh sangat, you know! Nak ambil bus, sampai sana boleh tengok-tengok, you know!” Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker

Titik Nol (46): Laporan Kehilangan
Nepal
Senin, 6 Oktober 2008 | 07:41 WIB

“Sudahlah,” Lam Li menghibur saya yang masih bersedih gara-gara dompet yang tercopet, “Yang lalu biarlah berlalu. Percayalah, sekali kejadian buruk, serentetan keberuntungan akan menantimu. Bukan begitu?”

Lam Li menoleh ke arah dua pandita Rusia. Yang satu sibuk dengan butir-butir rudraksha dan satunya lagi baru saja memasak bubur warna-warni untuk sesaji.

“Tidak, bukan begitu,” kata pria bule berjubah itu, “Dalam ajaran Budha, kalau kamu mengalami kejadian buruk, itu tandanya karma burukmu berkurang. Kejadian buruk masih bisa terjadi lagi, imbalan karma dari apa yang sudah kamu perbuat. Percayalah, semuanya itu ada yang mengatur, karma adalah timbangan yang paling adil.” Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker
Titik Nol (45): Dewi Hidup
Nepal
Jumat, 3 Oktober 2008 | 07:33 WIB

Ratusan perempuan Nepal berkumpul untuk menyaksikan Raja dan Sang Dewi Hidup.

Ratusan perempuan Nepal berkumpul untuk menyaksikan Raja dan Sang Dewi Hidup.

Hari ini adalah hari keempat perayaan Indra Jatra. Kumari Devi, sang dewi hidup, akan memberikan pemberkatan bagi raja dan seluruh warga Kathmandu. Mozaik warna-warni Nepal membungkus Lapangan Durbar dalam gelora perayaan.

Tidak ada yang tahu pasti bagaimana kebiasaan menyembah dewi hidup di Nepal bermula. Legenda mengatakan, raja Jayaprakash Malla dari abad ke-17 terpesona oleh kecantikan Dewi Taleju waktu bermain catur dengan sang dewi pelindung kerajaannya. Kecantikan itu membangkitkan nafsu birahinya. Sang Dewi, yang bisa membaca pikiran raja, marah besar dan mengutuknya. Dewi meninggalkan istana itu sambil memberi tahu titisan berikutnya adalah seorang gadis muda dari kasta rendah. Lanjut Baca »

Catatan Perjalanan Seorang Backpacker
Titik Nol (16): Kebangsaan
Tibet
Senin, 25 Agustus 2008 | 07:11 WIB

Di dalam kesepian ini, saya malah merasakan kerinduan yang teramat dalam pada kampung halaman.

Sudah dua jam kami berhenti untuk sarapan di Coqen. Ada yang aneh. Biasanya bus tak suka berhenti lama-lama. Untuk makan cuma tiga puluh menit, untuk buang air berombongan di pinggir jalan di tengah padang rumput luas, tak lebih dari tiga menit. Laki-laki dan perempuan pun sampai bersamaan melaksanakan hajat, karena bus kami yang merayap lambat di jalan selalu ‘tak punya waktu’ untuk berhenti.

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »