<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agustinus Wibowo Sang Petualang</title>
	<atom:link href="http://agustinuswibowo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com</link>
	<description>Karena Hidup Ini Adalah Perjalanan...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Nov 2008 19:26:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agustinuswibowo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agustinus Wibowo Sang Petualang</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agustinuswibowo.wordpress.com/osd.xml" title="Agustinus Wibowo Sang Petualang" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agustinuswibowo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Titik Nol (74): Istirahat</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/11/13/titik-nol-74-istirahat/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/11/13/titik-nol-74-istirahat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 23:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (74): Istirahat India Kamis, 13 November 2008 &#124; 06:11 WIB Setumpuk masalah visa dan bencana bom di New Delhi membuat saya lelah. Saya ingin istirahat, menenangkan pikiran. Rajasthan adalah pilihannya. “Kamu yakin mau ke Rajasthan untuk menenangkan diri?” tanya Lam Li “kamu mesti ingat, India sama sekali bukan tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=218&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker<br />
<strong>Titik Nol (74): Istirahat</strong><br />
India<br />
Kamis, 13 November 2008 | 06:11 WIB</p>
<div id="attachment_223" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233544p.jpg"><img class="size-full wp-image-223" title="233544p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233544p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Jaipur, kota merah jambu." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Jaipur, kota merah jambu.</p></div>
<p>Setumpuk masalah visa dan bencana bom di New Delhi membuat saya lelah. Saya ingin istirahat, menenangkan pikiran. Rajasthan adalah pilihannya.</p>
<blockquote><p>“Kamu yakin mau ke Rajasthan untuk menenangkan diri?” tanya Lam Li “kamu mesti ingat, India sama sekali bukan tempat untuk bersantai. Nanti jadinya malah kamu yang stress.” Lam Li, si petualang cewek dari Malaysia, baru saja datang kemarin dari Varanasi dan tak sengaja menginap di losmen yang sama dengan saya.<span id="more-218"></span></p></blockquote>
<p>Sejak hari pertama datang ia muntah-muntah hebat. Obatnya cuma Coca Cola campur garam dan sebatang rokok. Hari ini wajahnya masih pucat.</p>
<p>Keputusan saya sudah bulat. Saya berangkat ke Jaipur di Rajasthan juga untuk mengejar perayaan hari raya Diwali &#8211; festival cahaya, perayaan terbesar bagi umat Hindu di India. Diwali adalah perayaan kemenangan terang melawan kegelapan, pencerahan mengatasi kebodohan, dan kebaikan mengalahkan kejahatan. Apalagi Diwali tahun ini hampir berbarengan dengan Idul Fitri, pasti sangat meriah.</p>
<blockquote><p>“Ya sudah, berangkatlah dulu,” kata Lam Li, “besok aku menyusul. Hari ini aku masih sakit. Kalau sudah dapat penginapan murah di sana, bagi tahu ya.”</p></blockquote>
<p>Saya dan Lam Li rasanya sudah menjadi teman perjalanan yang cocok. Kami tak selalu harus bersama ke mana-mana. Tetapi kami saling bantu dalam memberi informasi. Mencari penginapan murah, yang walaupun adalah pekerjaan rutin ketika menjalani petualangan sebagai backpacker, tidak selalu gampang. Rekomendasi orang tentu sangat membantu.</p>
<div id="attachment_224" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233626p.jpg"><img class="size-full wp-image-224" title="233626p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233626p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Toilet pinggir jalan" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Toilet pinggir jalan</p></div>
<p>Lam Li kembali beristirahat di kamarnya ketika saya berangkat menuju terminal bus antar negara bagian (ISBT – Interstate Bus Terminus). Di terminal atau stasiun kereta api di India, kesabaran seorang backpacker benar-benar diuji.</p>
<p>Fenomena paling mencolok di India adalah ratusan calo yang berkeliaran di berbagai sudut kota. Ada calo tempat wisata, yang berpura-pura menjadi guide ramah lalu mengeruk duit turis. Ada sopir rickshaw yang merangkap menjadi calo hotel, berkisah berbagai cerita bohong tentang losmen murah yang kebakaran atau daerah Paharganj yang terjebak kerusuhan, lalu membawa turis ke hotel mahal punya temannya. Ada calo toko permata, yang membujuk rayu turis dengan segala daya untuk membeli berlian ‘murah’, tetapi palsu semua.</p>
<p>Sekarang di terminal saya menghadapi puluhan calo bus yang kegigihannya dalam mencari penumpang boleh jadi lebih dahsyat daripada pejuang perang. Ada yang mendorong, ada yang langsung membantu saya membawa ransel. Saya yang masih newbie di India tentu memilih mengikuti orang yang menawarkan harga paling murah.</p>
<p>Saya duduk dalam sebuah bus ber-AC. Harga karcis ke Jaipur 260 Rupee. Tetapi belakangan saya tahu, tiap penumpang membayar harga berbeda, tergantung spektrum kepandaiannya. Saya termasuk penumpang bodoh. Bukan saja membayar mahal, tetapi malah termakan janji gombal sopir dan kernet bahwa bus akan segera berangkat dalam hitungan menit. ‘Menit’ dalam skala India bisa berarti skala tiga jam.</p>
<p>Pelajaran pertama yang saya dapatkan – jangan sekali-sekali membayar karcis angkutan sebelum yakin bus berangkat. Saya menyesal tidak bisa pindah bus karena sudah terlanjur bayar karcis. Perut keroncongan dan hati diliputi kejengkelan ketika matahari sudah sangat tinggi pukul 12 siang. Padahal saya berangkat dari losmen jam 8 pagi, sampai sekarang masih bergeming di terminal bus New Delhi. Bukannya langsung berangkat, sopir malah melempar saya ke bus lain.</p>
<div id="attachment_227" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233706p.jpg"><img class="size-full wp-image-227" title="233706p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233706p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Warna-warni Rajasthan" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Warna-warni Rajasthan</p></div>
<p>Perjalanan ke Jaipur sangat lambat, padahal melintasi Delhi-Jaipur Expressway yang beraspal mulus. Katanya ini bus langsung eksekutif, tetapi nyatanya berhenti di mana-mana untuk memungut penumpang. Semakin lama, bus ini semakin penuh, dengan puluhan penumpang yang tak dapat tempat duduk terpaksa bersila di lantai kendaraan. Mereka mengomel pun tidak, mungkin sudah terbiasa dengan perlakuan sopir yang semena-mena seperti ini.</p>
<p>Memasuki Jaipur, pemandangan langsung berubah menjadi padang pasir. Barisan unta menggeret kereta, mengangkut balok kayu, menyusuri jalan beraspal. Matahari terbenam menebarkan warna merah keemasan di seluruh penjuru padang yang datar.</p>
<p>Jaipur, dijuluki sebagai Kota Merah Jambu, adalah ibu kota negara bagian Rajasthan. Kota ini didirikan oleh Maharaja Jai Singh II, yang menjadi asal usul namanya. Dijuluki Pink City karena banyak bangunan bersejarah berwarna merah muda di kota ini. Sekilas dari balik jendela bus saya sama sekali tak melihat warna pink. Yang ada malah sebuah kota modern yang tertata rapi, jauh dari kesan kumuh Paharganj di New Delhi yang ibu kota negara.</p>
<p>Saya sampai di Jaipur ketika langit sudah gelap. Mencari penginapan dalam kegelapan malam bukanlah pekerjaan mudah, apalagi di kota yang sama sekali asing ini. Tukang auto rickshaw mengantar saya ke losmen yang katanya murah, tetapi harganya masih mahal buat kantong saya – 200 Rupee. Semua losmen di sekitarnya harganya juga di atas itu. Penginapan yang murah tak berani menerima orang asing.</p>
<p>Sampai pada akhirnya saya menemukan ‘hotel’ ini. Letaknya di Banasthali Marg, tak jauh dari gerbang kota Jaipur. Harganya cuma 100 Rupee per malam. Sebenarnya saya sudah cukup senang dengan menemukan kamar murah ini. Tetapi kemudian, sesuai dengan harga yang dibayar, yang saya dapatkan adalah kamar gelap dan bau, toilet yang pipanya sudah berkarat semua, dan air yang tak mengalir sama sekali. Ranjangnya tipis. Waktu tidur saya merasa seperti seorang pertapa yang bermeditasi menyiksa diri di atas kasur jarum.<br />
Kamar ini letaknya di pinggir jalan. Jalan ini letaknya dekat terminal. Sepanjang malam, setiap lewat lima menit, ada bus atau truk yang melintas. Getaran kendaraan berat yang menggoncang jalan kuat sekali. Di atas kasur keras saya sepert digoyang gempa.</p>
<p>Mungkin benar kata Lam Li, India bukan tempat untuk ber-‘istirahat’.</p>
<p>(Bersambung)<br />
<a href="http://kompas.com/read/xml/2008/11/13/06112851/titik.nol.74.istirahat" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=218&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/11/13/titik-nol-74-istirahat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233544p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">233544p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233626p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">233626p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/233706p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">233706p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (73): Bom</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/11/12/titik-nol-73-bom/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/11/12/titik-nol-73-bom/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 01:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (73): Bom India Rabu, 12 November 2008 &#124; 08:23 WIB New Delhi berguncang. Bom meledak nyaris berbarengan di berbagai penjuru kota. Keramaian pasar Paharganj yang dibanjiri ribuan orang berbelanja menjelang hari raya Diwali dan Idul Fitri tiba-tiba terkoyak oleh aliran darah. Paharganj, distrik kumuh di dekat stasiun kereta api [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=229&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker<br />
<strong>Titik Nol (73): Bom</strong><br />
India</p>
<p>Rabu, 12 November 2008 | 08:23 WIB</p>
<div id="attachment_230" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/081400p.jpg"><img class="size-full wp-image-230" title="081400p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/081400p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Ledakan dahsyat di Paharganj meluluhlantakkan pasar yang selalu ramai ini" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ledakan dahsyat di Paharganj meluluhlantakkan pasar yang selalu ramai ini</p></div>
<p>New Delhi berguncang. Bom meledak nyaris berbarengan di berbagai penjuru kota. Keramaian pasar Paharganj yang dibanjiri ribuan orang berbelanja menjelang hari raya Diwali dan Idul Fitri tiba-tiba terkoyak oleh aliran darah.</p>
<p>Paharganj, distrik kumuh di dekat stasiun kereta api New Delhi, adalah salah satu pusat perbelanjaan murah di ibu kota. Toko pakaian grosir berbaris sepanjang jalan sempit. Losmen murah, wisma, toko buku, warung internet dan telepon, melengkapi keriuhan pasar ini, membuat tempat ini menjadi pilihan utama backpacker miskin.. Jalan bolong-bolong, sapi yang melenggang santai, bajaj butut dan mobil tua meraung-raung menyumpahi kemacetan di jalan kecil. Belum lagi orang-orang yang memenuhi jalan mencari barang-barang murah. Paharganj adalah sebuah dunia tersendiri.<span id="more-229"></span></p>
<p>Hari ini, 29 Oktober 2005, dua hari menjelang hari raya Diwali – hari besar terpenting umat Hindu – dan empat hari menjelang Idul Fitri, kesibukan di Paharganj menjadi-jadi. Ribuan orang, umat Muslim dan Hindu, datang memborong barang belanjaan untuk persiapan perayaan. Saking penuhnya, jalan pun susah.</p>
<p>Sore hari, pukul 5:40, kerumunan manusia ini semakin semburat. Ledakan bom dahsyat melemparkan kengerian dan histeria. Darah mengalir di mana-mana.</p>
<div id="attachment_231" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/082209p.jpg"><img class="size-full wp-image-231" title="082209p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/082209p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Pertokoan hancur." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Pertokoan hancur.</p></div>
<p>Begitu mendengar berita ini, saya yang semula sedang berbuka bersama di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), langsung meluncur ke tempat kejadian. Ya Tuhan, ternyata bom meledak tak lebih 100 meter dari losmen murah tempat saya menginap. Kalau bukan karena ada acara KBRI, sangat mungkin pada waktu ledakan saya tepat melintas di tempat kejadian dalam perjalanan menuju warung favorit saya.</p>
<p>Polisi langsung memblokir jalan. Orang-orang India, dasarnya selalu penuh ingin tahu, bukannya takut malah membuat tempat kejadian semakin ramai. Kamera televisi menyorot toko-toko hancur, kerumunan orang tak berkepentingan malah berebutan ingin masuk kamera. Ketika ada saksi yang diwawancari, puluhan bocah dan pria di belakang malah over akting dan melambai-lambai tangan, seolah titip salam kepada sanak keluarga yang mungkin menonton TV.</p>
<blockquote><p>“Waktu bom itu meledak,” kata seorang pemilik warnet, “saya persis berada di sana. Saya sedang makan kentang di kaki lima. Ledakan itu keras sekali, saya sampai terpental. Ketika saya bangun, api membakar gedung-gedung. Saya melihat darah di mana-mana. Ada kepala seorang pria melayang di udara. Ada pula sepotong kaki perempuan yang terbang.”</p></blockquote>
<p>Berdasarkan pemeriksaan polisi, bom diletakkan di dalam sebuah kendaraan yang diparkir di pinggir sebuah toko obat.</p>
<p>Pemandangan menyeramkan itu tak sampai mengaburkan akal sehat pemilik warnet.</p>
<blockquote><p>“Saya melihat seorang gadis mungil, terbaring bersimbah darah di atas jalan raya. Saya langsung membopongnya ke rumah sakit.”</p></blockquote>
<p>Delapan belas korban tewas dan 60 luka-luka menjadikan rumah sakit penuh sesak dan kacau balau.</p>
<p>Pemuda ini kekar, kumisnya membuat wajahnya semakin gagah. Tetapi yang paling membuat saya terkesima adalah baju putihnya yang penuh bercak darah dan berbau anyir, bukti pengorbanannya.</p>
<div id="attachment_232" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/082332p.jpg"><img class="size-full wp-image-232" title="082332p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/082332p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Pengamanan di Paharganj diperketat pasca ledakan." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Pengamanan di Paharganj diperketat pasca ledakan.</p></div>
<p>Malam semakin larut. Polisi sudah memblokir jalan dan arus manusia, tetapi tetap saja orang-orang yang penasaran terus mengalir, mencari jalan melihat tempat kejadian sedekat-dekatnya, dan tak sedikit pula yang mencari kesempatan untuk masuk TV.</p>
<p>Hati saya sedih. Mengapa harus ada kejadian berdarah menjelang hari raya seperti ini? Berapa puluh keluarga yang meratapi perginya sanak saudara yang hanya pergi berbelanja? Mengapa harus membunuh rakyat sipil tak berdosa? Perempuan dan anak-anak ikut tewas. Sebagian besar korban hanya rakyat jelata yang berbelanja untuk memeriahkan hari raya, sebagian lagi adalah pedagang jalanan yang mencari sesuap nasi.</p>
<p>Bom tidak hanya di Paharganj. Tiga buah bom mengguncang kota Delhi pada saat yang bersamaan. Sebuah bom lain di Pasar Sarojini di selatan Delhi, setengah jam sesudahnya, menewaskan 43 orang, 28 lainnya luka-luka. Bom ketiga terjadi di sebuah bus di daerah Govindpuri, tak ada korban tewas.</p>
<p>Esok harinya, koran-koran ibu kota menerbitkan sebuah kisah kepahlawanan dari ledakan bom Govindpuri. Kejadian bermula ketika seorang penumpang bertengkar karena tidak mau membayar karcis bus. Penumpang itu diusir turun. Kondektur curiga karena penumpang nakal itu meninggalkan sebuah tas plastik hitam. Instingnya bergerak cepat, ia langsung memerintahkan semua orang turun dari bus itu. Kemudian dengan gagah berani, sang sopir melemparkan tas plastik hitam itu jauh-jauh. Barang dalam plastik itu memang bom. Sopir Kuldeep dan kondektur Budh Prakash, keduanya luka parah dalam kejadian itu, adalah pahlawan penyelemat jiwa puluhan manusia.</p>
<p>Saya masih memandangi reruntuhan rumah makan Club India, tempat favorit turis bule yang ingin mencicip makanan Tibet. Saya teringat bagaimana seorang turis Inggris yang penuh histeria berteriak di televisi, “Mengerikan sekali! Saya harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini!”</p>
<p>Kejadian ini membawa trauma, kesedihan, dan semakin menancapkan benih-benih kebencian. Pakistan langsung dituding sebagai dalang peristiwa berdarah yang tak terduga ini. Bahkan sampai pedagang kaki lima pun angkat bicara,</p>
<blockquote><p>“Keterlaluan sekali mereka itu! Kami sudah banyak membantu waktu mereka dilanda gempa bumi! Dan sekarang lihat ini, balasan yang mereka perbuat!”</p></blockquote>
<p>Kebencian terhadap negara tetangga selalu menyebabkan Pakistan menjadi kambing hitam peristiwa berdarah di India.</p>
<p>Hiruk pikuk Pasar Paharganj kali ini hilang. Sepanjang jalan dibalut kesedihan. Orang masih sibuk menonton TV dan membaca berita, sisanya lagi meratap. Tak ada lagi pedagang gerobak dorong karena dilarang polisi. Toko masih boleh buka, tetapi sepi sekali karena orang masih takut berbelanja.</p>
<p>Ada sesuatu yang hilang dari Paharganj. Nyawanya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<strong>Catatan:</strong><br />
Dua minggu setelah kejadian, tanggal 10 November 2005, Ahmad Dar, otak pengeboman berantai ditangkap polisi. Pengadilan mengungkap keterlibatan Lashkar Taiba, organisasi militan Pakistan, dalam peristiwa ini.</p>
<p>(Bersambung)<br />
<a href="http://kompas.com/read/xml/2008/11/12/08235147/titik.nol.73.bom" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=229&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/11/12/titik-nol-73-bom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/081400p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">081400p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/082209p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">082209p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/11/082332p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">082332p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (60): High Camp</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/24/titik-nol-60-high-camp/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/24/titik-nol-60-high-camp/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 00:06:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (60): High Camp Nepal Jumat, 24 Oktober 2008 &#124; 07:06 WIB Perjuangan kami hampir mencapai titik kulminasi. Di ketinggian ini, langit sudah begitu dekat. Kami sudah nyaris sejajar dengan puncak-puncak salju di seberang sana. Tetapi justru di tempat ini, kaki semakin berat dan semangat menggebu-gebu tertekan oleh udara berat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=203&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker<br />
<strong>Titik Nol (60): High Camp</strong><br />
Nepal</p>
<p>Jumat, 24 Oktober 2008 | 07:06 WIB</p>
<div id="attachment_204" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/013352p.jpg"><img class="size-full wp-image-204" title="Menuju puncak." src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/013352p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Menuju puncak." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Menuju puncak.</p></div>
<p>Perjuangan kami hampir mencapai titik kulminasi. Di ketinggian ini, langit sudah begitu dekat. Kami sudah nyaris sejajar dengan puncak-puncak salju di seberang sana. Tetapi justru di tempat ini, kaki semakin berat dan semangat menggebu-gebu tertekan oleh udara berat.</p>
<p>Thorung Pedi adalah desa tertinggi di Sirkuit Annapurna. Ketinggiannya 4450 meter, hanya dua jam perjalanan dari Letdar melalui jalan batu yang berlekuk-lekuk. Tanaman tak nampak sama sekali. Gunung batu yang kami lewati hanya satu warna – muram kelabu.<span id="more-203"></span></p>
<p>Senada dengan warna batu yang kelabu itu adalah rumah-rumah di Thorung Pedi. Rumah batu ala Tibet. Sunyi. Ada satu penginapan di sini, cukup terkenal karena merupakan tempat menginap rombongan turis. Karena tak banyak saingannya, ditambah lagi posisinya yang susah, harga menginap, makanan, dan air bersih di sini sangat mahal. Sebiji apel harganya 15 Rupee, sedangkan di bawah sana nyaris gratis.</p>
<blockquote><p>“Dari Indonesia?” tanya pemilik penginapan, orang Tibet yang pandai cakap Melayu, “Kemarin juga ada orang Indonesia menginap di sini. Hari ini sudah berangkat ke atas dia, naik kuda.”</p></blockquote>
<p>Hah? Pasti si Nef. Terkenal sekali kawan kita yang satu ini, di mana-mana meninggalkan jejak. Tetapi setahu saya ia hanya berangkat berjalan kaki dari Manang.</p>
<blockquote><p>“Kasihan sekali dia,” kata pria Tibet bertubuh kekar itu, “Sakit berat. Jalannya sudah sempoyongan. Tetapi semangatnya untuk terus maju itu luar biasa. Memang kalau sudah sampai sini tak ada pilihan, kurang sedikit lagi sudah melewati Thorung La.”</p></blockquote>
<div id="attachment_205" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/013642p.jpg"><img class="size-full wp-image-205" title="Mendaki, dan terus mendaki." src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/013642p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Mendaki, dan terus mendaki." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mendaki, dan terus mendaki.</p></div>
<p>Thorung La, titik tertinggi itu, adalah titik kulminasi perjalanan panjang sepuluh hari ini. Puncak itu, yang namanya selalu menemani mimpi di tiap malam, kini sudah begitu dekat. Dinginnya terasa, anginnya menderu menerpa wajah.</p>
<p>Masih seribu meter lagi ketinggian Thorung La dari Thorung Pedi. Biasanya turis dan pendaki menginap di Thorung Pedi, lalu berangkat subuh-subuh esok hari ke puncak gunung, dan langsung turun ke Muktinath di balik gunung itu. Perjalanan berat melintasi puncak itu konon akan membutuhkan waktu sekitar sepuluh jam.</p>
<p>Tetapi baru-baru ini, seiring dengan semakin banyaknya turis yang melintas Sirkuit Annapurna, semakin banyak fasilitas untuk memudahkan para pendaki. Salah satunya adalah perkemahan High Camp, 300 meter di atas Thorung Pedi, mendekatkan jarak ke Puncak Thorung La keesokan harinya.</p>
<p>Setelah sepuluh hari berjalan, tiga ratus meter tidak berarti banyak buat kami. Tetapi, naik tiga ratus meter dari ketinggian hampir 4500 meter lain lagi ceritanya. Jalan batu berzig-zag, mengingatkan saya pada perjuangan hidup mati di Kailash di Tibet, ketika saya yang kehabisan oksigen sudah tak mampu lagi mengontrol otak saya. Penderitaan itu terulang kembali.</p>
<p>Perjalanan Annapurna adalah penjabaran dari setiap langkah ziarah suci di Kailash – pemandangan lapang yang indah, perjalanan santai dengan menikmati alam sekitar, alam tiba-tiba berubah menjadi ganas, perjalanan menjadi berat, tujuan akhir semakin jauh, langkah kaki semakin tak terkendali, secercah kegembiraan, hingga tepat mendekati titik akhir langkah menjadi berat kembali oleh beban masa lalu, harapan, dan pencapaian. Semua hakikat perjalanan hidup tertuang dalam satu kali ziarah mengelilingi gunung suci.</p>
<p>Teh lemon panas mengalir di tenggorokan, menghangatkan tubuh kami yang sudah menggigil. Di High Camp pemilik pemondokan trekker yang juga lancar berbahasa Melayu sedang gembira mengisi pundi-pundi uangnya. Hanya ada satu pemondokan lain di sini, persaingan tak banyak. Sepetak kamar dengan satu kasur dan dua lapis selimut tebal dan bau harganya 100 Rupee. Belum seberapa dibandingkan menu makanan yang harganya 200 Rupee ke atas. Tempat ini begitu terpencil. Barang makanan didatangkan dari dusun-dusun di bawah sana, seminggu perjalanan, dengan menggunakan jasa porter yang terbungkuk-bungkuk naik turun bukit.</p>
<blockquote><p>“Tak apa,” kata Jörg, “Kita sudah sampai di titik ini. Sudah sepatutnya kita merayakan kemenangan kita, walaupun perjuangan yang lebih berat lagi menanti esok hari.”</p></blockquote>
<div id="attachment_206" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/070604p.jpg"><img class="size-full wp-image-206" title="High Camp" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/070604p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="High Camp" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">High Camp</p></div>
<p>Rombongan turis satu per satu berdatangan. Pemondokan sunyi di gunung tinggi ini tiba-tiba menjadi ramai oleh lusinan orang bule, dua orang Asia, dan sepuluhan orang Nepal.</p>
<p>Yang turis, dengan membawa ransel berpuluh-puluh kilogram berisi segala macam perlengkapan untuk hidup nyaman di tempat tak nyaman, sudah tak sabar lagi menantikan petualangan besar yang menantang esok hari. Semua pakaian tebal sudah mereka kenakan – baju tiga lapis, sweater dua lapis, jaket, mantel, topi, sarung tangan, syal. Ransel mereka jadi jauh lebih ringan, tetapi tubuh semakin berat oleh baju hangat.</p>
<p>Yang orang Nepal, porter dan pemandu, sudah melewati rute ini puluhan kali, tentu tak merasakan keingintahuan yang sama dengan para turis itu. Bagi mereka, membawa beban ransel turis itu berarti sesuap nasi bagi sanak saudara di rumah. Punggung mereka bertambah lagi selapis tebalnya. Kepala mereka bertambah kuat lagi seperti baja. Thorung La sama sekali bukan tantangan lagi bagi mereka. Bola biliar tersentak, tawa lepas membahana, para porter dan pemandu berbahagia karena hari gajian sudah semakin dekat.</p>
<blockquote><p>“Jangan khawatir,” kata Shri Gurung, saudara Gurung saya, “Kamu pasti bisa. Thorung La buat kamu pasti no problem&#8230;.”</p></blockquote>
<p>Sama sekali tidak. Malam itu saya tak bisa tidur. Sudah banyak trekker di High Camp ini yang menunjukkan gejala sakit parah, termasuk salah seorang turis Shri Gurung. Saya meringkuk, menggigil kedinginan di bawah bungkusan empat lapis baju hangat dan tumpukan selimut bau, dalam malam yang gelap gulita. Gemuruh geledek, hujan, dan salju membasahi bumi. Esok subuh pukul 5, sebuah perjuangan berat akan dimulai.</p>
<p>(Bersambung)</p>
<p><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/24/0706290/titik.nol.60.high.camp." target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=203&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/24/titik-nol-60-high-camp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/013352p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Menuju puncak.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/013642p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mendaki, dan terus mendaki.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/070604p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">High Camp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (59): Vegetarian Seumur Hidup</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/23/titik-nol-59-vegetarian-seumur-hidup/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/23/titik-nol-59-vegetarian-seumur-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 18:16:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (59): Vegetarian Seumur Hidup Nepal Kamis, 23 Oktober 2008 &#124; 01:16 WIB Kabut mulai turun menyelimuti barisan pegunungan Annapurna III dan Gangapurna. Tak ada lagi yang tampak kecuali putih yang sempurna. Kami bertiga memutuskan untuk terus berangkat menuju puncak. “Tak perlu kita memforsir tenaga,” kata Jörg, “kita sudah mengirit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=210&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker<br />
<strong>Titik Nol (59): Vegetarian Seumur Hidup</strong><br />
Nepal</p>
<p>Kamis, 23 Oktober 2008 | 01:16 WIB</p>
<div id="attachment_211" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011443p.jpg"><img class="size-full wp-image-211" title="Para porter bermain kartu mengisi senja yang dingin." src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011443p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Para porter bermain kartu mengisi senja yang dingin." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Para porter bermain kartu mengisi senja yang dingin.</p></div>
<p>Kabut mulai turun menyelimuti barisan pegunungan Annapurna III dan Gangapurna. Tak ada lagi yang tampak kecuali putih yang sempurna. Kami bertiga memutuskan untuk terus berangkat menuju puncak.</p>
<blockquote><p>“Tak perlu kita memforsir tenaga,” kata Jörg, “kita sudah mengirit satu hari di Manang, hari ini kita cukup berjalan satu desa saja sampai ke Letdar.”</p></blockquote>
<p>Pada ketinggian ini, desa semakin jarang dan berjauhan. Gunsang sudah hampir mencapai empat ribu meter, sudah jauh lebih tinggi daripada Gunung Semeru. Pepohonan sudah lenyap, berganti tanaman rumput. Orang Newar sudah tak nampak, yang ada cuma orang Tibet, Tamang, dan Gurung – semuanya orang gunung yang tangguh, bahan baku pasukan Ghurka yang tersohor di seluruh dunia.<span id="more-210"></span></p>
<p>Kami terus mendaki. Masih kurang sekitar 1500 meter ketinggian lagi untuk mencapai puncak Thorung La. Sebenarnya saya tidak terlalu khawatir akan gejala penyakit ketinggian, karena saya sudah terbiasa dengan beratnya alam di Tibet. Tetapi, sejak meninggalkan Gunsang, saya merasa sedikit pusing dan meriang, ditambah batuk berdahak dan hidung mampet.</p>
<p>Menurut peta yang dibawa Jörg, tujuan berikutnya, Dusun Letdar, hanya satu jam perjalanan dari Gunsang. Satu jam, tentu bukan siksaan yang terlalu berat, begitu pikir kami. Tetapi memang terlalu naif kalau menyamakan rayapan kami yang menyeret tanah dengan standar berjalan orang Nepal yang seperti terbang. Kami butuh waktu setidaknya lima jam untuk mencapai Letdar.</p>
<p>Sebelum Letdar, ada lagi satu desa yang bernama Yak Kharka. Nama yang aneh. Mungkin karena di sini banyak yak. Saya teringat Nef yang belum pernah melihat yak tetapi sudah menyantap dagingnya di atas piring steak. Di desa ini pun, Nef terkenal.</p>
<blockquote><p>“O&#8230; kamu dari Indonesia ya,” kata seorang pria Tamang penduduk setempat, bekerja sambilan sebagai porter, “kemarin ada orang Indonesia juga, cari porter di Manang. Saya bantu mencarikan. Kamu kenal dia?”</p></blockquote>
<div id="attachment_212" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011243p.jpg"><img class="size-full wp-image-212" title="Menuju Letdar." src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011243p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Menuju Letdar." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Menuju Letdar.</p></div>
<p>Nef memang sempat kebingungan mencari porter yang mau diajak sampai ke Jomsom. Sejak tiba-tiba datang dari Humde yang tinggi, tubuhnya masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan tanah tinggi. Kepalanya masih berat, dan sekarang harus membopong tas punggung besar mencapai puncak salju di atas sana. Masalahnya, di Manang, tidak banyak orang yang mau. Kalaupun ada harganya pun relatif mahal. Tetapi nampaknya, kawan Indonesia kita ini berhasil menemukan orang yang ia cari-cari, dan sudah berangkat mendahului saya.</p>
<p>Letdar, pada ketinggian 4200 meter, sudah menjadi dunia lain lagi. Dingin dibungkus kabut. Rumah batu penduduk berbaris. Kami memutuskan untuk beristirahat di dusun ini.</p>
<p>Jörg dan Oi Lye sudah berjaket tebal. Saya, yang kurang persiapan, hanya berbalut sweater dan jaket universitas. Sarung tangan dan topi musim dingin benar-benar membantu. Selebihnya, saya tak punya apa-apa lagi.</p>
<p>Pusing, menggigil, dan meriang. Sudah kurang sedikit lagi mencapai puncak tinggi itu, tantangannya malah semakin berat.</p>
<blockquote><p>“Tidak ada sakit kepala?” tanya Shri Gurung, seorang porter, penerjemah, sekaligus pemandu rombongan turis Israel.</p></blockquote>
<div id="attachment_213" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011528p.jpg"><img class="size-full wp-image-213" title="Tiada rotan akar pun jadi - kaleng bekas pun bisa menjadi silinder roda doa." src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011528p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Tiada rotan akar pun jadi - kaleng bekas pun bisa menjadi silinder roda doa." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tiada rotan akar pun jadi - kaleng bekas pun bisa menjadi silinder roda doa.</p></div>
<p>Ia mampu memanggul tiga buah ransel seberat total empat puluh kilogram di pundaknya, melalui jalan naik-turun bukit.<br />
Saya menggeleng. Tidak sakit kepala, cuma sedikit pusing saja.</p>
<blockquote><p>“Tidak ada muntah-muntah?”</p></blockquote>
<blockquote><p>“Tidak kehilangan nafsu makan?”</p></blockquote>
<blockquote><p>“Jangan kuatir. Bukan Altitude Sickness. Meriang biasa. Saya yakin kamu pasti mampu mencapai Muktiknath,” pria Gurung itu meyakinkan.</p></blockquote>
<p>Saya hanya bisa tersenyum kecut. Tetapi setidaknya kami jadi bersahabat. Shri Gurung sudah menganggap saya sebagai saudaranya sendiri, karena penampilan saya yang sudah mirip orang Gurung yang Mongoloid. Ia menjuluki saya Gurung Bhai – Saudara Gurung.</p>
<p>Shri Gurung membawa tiga orang turis Israel. Turis-turis bule ini, tidak seperti rombongan kami, tidak pernah menawar dan selalu siap membayar berapa pun yang diminta pemilik pemondokan. Shri Gurung pun kebagian cipratan bonus dari pemilik pemondokan yang senang dapat tamu tajir.</p>
<blockquote><p>“Kamu beruntung, di Letdar masih bisa dapat penginapan gratis,” ia memuji, “Tetapi setelah ini, Thorung Pedi dan High Camp, semua penginapan mahal. Di sana memang aslinya tidak ada desa, hanya pengusaha penginapan yang tak mungkin melepaskan keuntungan besar karena tidak ada saingan. Tetapi kamu jangan bilang-bilang ya ke tamuku kalau harga-harga di sini masih bisa ditawar.”</p></blockquote>
<div id="attachment_214" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011355p.jpg"><img class="size-full wp-image-214" title="Siapa yang tak terpukau oleh kedahsyatan gunung-gunung salju ini?" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011355p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Siapa yang tak terpukau oleh kedahsyatan gunung-gunung salju ini?" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Siapa yang tak terpukau oleh kedahsyatan gunung-gunung salju ini?</p></div>
<p>Di tempat yang dingin dan tinggi ini, mudah sekali menjadi lelah dan ngantuk. Sepanjang sore yang berkabut, saya melewatkan waktu hanya terbujur di atas kasur keras. Tak sampai setengah jam, saya sudah terbangun oleh teriakan orang-orang di luar sana.</p>
<p>Saya melihat sekelompok pria menyeret makhluk hitam besar sambil berteriak-teriak di lembah tepian jurang. Anjing menggonggong tanpa henti, seperti bergembira menyambut pesta.</p>
<blockquote><p>“Penduduk desa ini adalah umat Budha yang religius,” kata Shri Gurung, “Mereka bervegetarian seumur hidup. Bukan hanya tak menyakiti binatang, mereka pun senantiasa mengikuti perintah agama. Tadi, ada dua ekor yak berkelahi. Yang satu mati. Orang-orang ini, mengikuti ajaran Budha, menyeret mayat yak yang mati itu ke lembah, supaya menjadi santapan burung pemangsa.”</p></blockquote>
<p>Penganut Budha Tibet tidak menguburkan jenazah mereka setelah meninggal. Mayat orang Tibet ditaruh di atas puncak gunung tinggi, untuk menjadi santapan burung pemangsa. Inti ajarannya adalah untuk membaktikan diri kepada alam – walaupun roh sudah meninggalkan jasad tetapi masih bisa memberi makan pada burung-burung kelaparan.</p>
<blockquote><p>“Tetapi, anjing-anjing nakal yang juga kelaparan itu terus berdatangan ke lembah, ingin menikmati daging yak itu. Akhirnya, daripada dimakan anjing, mayat yak diseret kembali ke desa, ke halaman rumah penduduk,” Shri Gurung menjelaskan asal ribut-ribut barusan.</p></blockquote>
<p>Menjadi religius bukan pilihan. Bagi mereka, perintah agama adalah jalan hidup.</p>
<p>(<a href="http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/24/titik-nol-60-high-camp/" target="_blank">Bersambung</a>)<br />
<a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/23/01164460/titik.nol.59.vegetarian.seumur.hidup" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=210&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/23/titik-nol-59-vegetarian-seumur-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011443p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Para porter bermain kartu mengisi senja yang dingin.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011243p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Menuju Letdar.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011528p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tiada rotan akar pun jadi - kaleng bekas pun bisa menjadi silinder roda doa.</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/011355p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Siapa yang tak terpukau oleh kedahsyatan gunung-gunung salju ini?</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (49): Sirkuit Annapurna</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/09/titik-nol-49-sirkuit-annapurna/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/09/titik-nol-49-sirkuit-annapurna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 23:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Bakcpacker Titik Nol (49): Sirkuit Annapurna Nepal Kamis, 9 Oktober 2008 &#124; 06:07 WIB Bagi sebagian besar turis asing, Nepal berarti gunung. Negeri ini memang mungil kalau dilihat secara horizontal. Dilihat dari sudut vertikal, Nepal berada dalam jajaran atas negara tertinggi di dunia. Annapurna adalah serangkaian puncak Himalaya terletak di bagian barat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=185&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Bakcpacker<br />
<strong>Titik Nol (49): Sirkuit Annapurna</strong><br />
Nepal<br />
Kamis, 9 Oktober 2008 | 06:07 WIB</p>
<div id="attachment_197" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060542p.jpg"><img class="size-full wp-image-197" title="060542p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060542p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Menuju puncak salju di atas sana." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Menuju puncak salju di atas sana.</p></div>
<p>Bagi sebagian besar turis asing, Nepal berarti gunung. Negeri ini memang mungil kalau dilihat secara horizontal. Dilihat dari sudut vertikal, Nepal berada dalam jajaran atas negara tertinggi di dunia.</p>
<p>Annapurna adalah serangkaian puncak Himalaya terletak di bagian barat Nepal. Annapurna I, puncak tertingginya mencapai 8.000 meter, dikelilingi saudara-saudaranya yang di atas 7.000 meter, senantiasa diselimuti salju dan memancarkan keagungan yang menjadi magnet datangnya turis ke negeri ini.<span id="more-185"></span></p>
<p>Semula saya kurang begitu tertarik dengan kegiatan turisme seperti mendaki gunung. Melihat distrik Thamel di Kathmandu yang dipenuhi perusahaan wisata menawarkan jasa porter dan pemandu, saya langsung muak. Saya tak pernah tahu, bahwa trekking berkeliling gunung pun bisa dilakukan secara independen tanpa harus memakai jasa biro tur.</p>
<p>Lam Li, si gadis Malaysia yang sudah berangkat dulu ke Annapurna, meyakinkan saya,</p>
<blockquote><p>“Keliling Annapurna pasti menarik sekali. Di sana, satu kali putaran, kamu bisa berjumpa delapan macam suku sekaligus, hidup di desa-desa yang masih asli.”</p></blockquote>
<div id="attachment_199" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060612p.jpg"><img class="size-full wp-image-199" title="060612p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060612p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Persawahan hijau." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Persawahan hijau.</p></div>
<p>Saya sangat tertarik dengan keragamam suku dan budaya, tetapi saya masih belum yakin saya bisa melakukan perjalanan seperti ini. Saya tak pernah punya pengalaman naik gunung. Sekali naik, mengelilingi gunung suci Kailash di Tibet nyaris celaka.</p>
<p>Kepercayaan diri saya bertambah ketika berjumpa dengan Keith di Kathmandu. Keith, asal Amerika, terbang ke Nepal dari Bangkok khusus untuk mengelilingi Sirkuit Annapurna. Sirkuit ini adalah lintasan sejauh dua ratus kilometer lebih, ditempuh dalam waktu tiga minggu, mengelilingi barisan pegunungan Annapurna berlawanan arah jarum jam. Modelnya seperti ziarah suci mengelilingi Kailash, walaupun trekking yang satu ini lebih bersifat wisata daripada religius.</p>
<blockquote><p>“Kita bisa berangkat bersama-sama kalau kamu mau,” kata Keith.</p></blockquote>
<p>Saya semakin mantap berangkat ke Annapurna setelah berhasil membujuk Nefransjah, backpacker Indonesia yang juga baru saja datang dari Thailand. Semula Nef sama sekali tidak membayangkan apa dan siapa itu Annapurna, apalagi jadwal jalan-jalannya cukup mepet gara-gara visa India.</p>
<blockquote><p>“Nef, kalau kamu belum ke Annapurna, berarti kamu belum ke Nepal,” bujuk saya sok tahu, padahal saya sendiri pun belum pernah melihat Annapurna atau membayangkan seperti apa perjalanan gunung itu.</p></blockquote>
<div id="attachment_200" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060648p.jpg"><img class="size-full wp-image-200" title="060648p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060648p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Petani." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Petani.</p></div>
<p>Jadilah kami bertiga berangkat. Nampaknya hanya Keith yang siap sedia, karena memang itu tujuan aslinya. Ia tahu baju apa yang mesti dibawa, sepatu bot model apa yang harus dipakai. Sedangkan saya, seperti gaya backpacker santai, hanya tas punggung kecil berisi sweater, kaos, celana panjang, jaket, dan dua buku tulis, plus kamera kesayangan yang sudah rusak. Saya dan Nef juga sempat patungan membeli biskuit dan coklat, mungkin berguna di jalan. Tak lupa pula tiket taman nasional seharga 1500 Rupee, harus dibeli di Kathmandu atau Pokhara.</p>
<p>Benar, dengan tas kecil seperti ini tak perlu porter dan pemandu. Tetapi apakah cukup? Entahlah. Saya hanya menyerahkan pada nasib. Lebih berat dari ini, saya malas membawanya.</p>
<p>Tubuh kami dibasahi keringat deras dalam bus antar kota yang sempit dan panas. Keith tak hentinya berkisah betapa senangnya ia bergandeng tangan dengan cowok-cowok Nepal yang imut dalam acara pesta tarian jalanan memperingati Hari Pariwisata Sedunia. Cerita aneh ini membuat Nef mengenyritkan kening penuh curiga.</p>
<p>Biasanya para trekker berhenti dulu di kota Pokhara, kota terbesar kedua Nepal, untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat trekking. Tetapi kami sudah lebih dari percaya diri, langsung menuju Dumre, mencari kendaraan ke Besisahar, titik awal dimulainya lintasan Sirkuit Annapurna.</p>
<div id="attachment_201" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060731p.jpg"><img class="size-full wp-image-201" title="060731p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060731p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Barisan keledai melintas jalan yang tergenang sungai." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Barisan keledai melintas jalan yang tergenang sungai.</p></div>
<p>Dumre adalah sebuah dusun kecil tak layak diingat. Yang ada hanyalah pemilik jip yang rakus mencari mangsa. Dengan segala teknik tipu-tipu, mereka berusaha mengeruk keuntungan dari dompet kami yang tipis. Tak ada buslah, busnya tak nyamanlah, karcis bus mahallah, cuma naik jip yang baguslah, dan sebagainya. Ketika mereka sedang gencar menyodorkan berbagai tipu muslihat, dari Pokhara datang sebuah bus bobrok yang mengangkut kami ke Besisahar.</p>
<p>Kami  menginap di sebuah pemondokan di Besisahar. Karakteristik trekking di Sirkuit Annapurna adalah teahouse trekking, di setiap desa ada warung dan penginapan, tak perlu repot bawa kantung tidur, kemah, atau kompor. Julukan lainnya adalah Apple Pie Trail atau Coca Cola Trail, karena segala macam makanan asing kegemaran turis tersedia di dusun yang paling terpencil sekalipun. Karena itu saya nekat dengan tas punggung kecil. Tetapi entahlah, banyak turis asing yang berombongan, bawaannya sampai berkuintal-kuintal seperti orang pindah rumah, dan saking beratnya sampai harus diangkut bagal dan keledai.</p>
<p>Ketinggian Besisahar cuma 820 meter, tetapi Nef sudah menunjukkan gejala tak sehat. Kepalanya pusing, tidurnya berisik. Esok paginya kawan Indonesia ini undur diri, kembali ke Pokhara untuk memulihkan kesehatan. Saya menyesal telah memaksanya ke sini. Mungkin trekking memang bukan untuknya.</p>
<p>Jadilah saya berjalan bersama Keith. Kami melintasi Dusun Bhulbule sampai Ngadi. Jalanan datar, seperti wisata desa saja. Di kanan kiri hamparan sawah padi, mirip pemandangan Pulau Jawa.</p>
<blockquote><p>“Trekking ini terlalu gampang,” kata saya sombong, “Saya sudah pernah keliling Kailash, jauh lebih berat daripada ini.”</p></blockquote>
<p>Saking datarnya, bahkan mobil pun lewat.</p>
<blockquote><p>“Apa gunanya jalan kaki? Naik mobil pun bisa?” komentar saya lagi, yang kesal karena sekarang harus berbasah-basah menyeberangi kubangan air yang menutup jalan.</p></blockquote>
<p>Saya tidak tahu, petualangan Annapurna sama sekali belum bermula di sini.</p>
<p>(Bersambung)</p>
<p><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/09/06075162/titik.nol.49.sirkuit.annapurna" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=185&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/09/titik-nol-49-sirkuit-annapurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060542p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">060542p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060612p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">060612p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060648p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">060648p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/060731p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">060731p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (48): Istana di Puncak Bukit</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/08/titik-nol-48-istana-di-puncak-bukit/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/08/titik-nol-48-istana-di-puncak-bukit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 01:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Bakcpacker Titik Nol (48): Istana di Puncak Bukit Nepal Rabu, 8 Oktober 2008 &#124; 08:29 WIB Tentara Gurkha berasal dari kota perbukitan yang sunyi ini. Raja besar Nepal, Prithvi Narayan Shah, lahir di sini. Sekarang kota kecil Gorkha masih menjadi salah satu basis pertahanan penting Kerajaan Nepal. Seperti Kathmandu, Bhaktapur, dan Patan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=184&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Bakcpacker<br />
<strong>Titik Nol (48): Istana di Puncak Bukit</strong><br />
Nepal<br />
Rabu, 8 Oktober 2008 | 08:29 WIB</p>
<div id="attachment_193" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081146p1.jpg"><img class="size-full wp-image-193" title="081146p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081146p1.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Gorkha Durbar di puncak bukit." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Gorkha Durbar di puncak bukit.</p></div>
<p>Tentara Gurkha berasal dari kota perbukitan yang sunyi ini. Raja besar Nepal, Prithvi Narayan Shah, lahir di sini. Sekarang kota kecil Gorkha masih menjadi salah satu basis pertahanan penting Kerajaan Nepal.</p>
<p>Seperti Kathmandu, Bhaktapur, dan Patan yang masing-masing punya Durbar Square, Gorkha pun punya. Gorkha Durbar terletak di puncak bukit, sekitar dua jam perjalanan mendaki, di daerah yang dijaga ketat oleh tentara Nepal.<span id="more-184"></span></p>
<div id="attachment_190" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081324p.jpg"><img class="size-full wp-image-190" title="081324p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081324p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Istana Raja Prithvi Narayan Shah." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Istana Raja Prithvi Narayan Shah.</p></div>
<p>Istana Prithvi Narayan Shah di puncak bukit ini adalah tempat yang paling strategis yang pernah saya lihat. Sejauh mata memandang, barisan puluhan bukit hijau terpampang di hadapan. Lekuk kurvanya yang mulus sambung-menyambung. Bagaikan spektrum, dari hijau yang paling pekat hingga hijau kebiruan, dan jauh di sana bersambung dengan warna langit.</p>
<p>Desa-desa kecil, berupa noktah putih, bertabur di seluruh penjuru perbukitan, dari kaki hingga puncak. Gorkha adalah salah satu kota peristirahatan di tepi bukit yang sejuk. Di kaki bukit sana, banyak vila yang dibangun untuk para pengunjung. Walaupun sekarang seperti kota hantu yang sepi, tetapi masih nampak bahwa dulunya kota ini pun pernah menjadi pusat kunjungan turis.</p>
<p>Di sini dulu Prithvi Narayan Shah pernah berdiri, memandang seluruh negeri yang terhampar di hadapannya. Dari titik inilah ia menaklukkan seluruh penjuru, menaklukan seluruh Nepal menjadi kerajaan kuno yang penuh kegemilangan. Sekarang, kami berada di tempat yang sama, memandangi lekuk-lekuk kurva perbukitan.</p>
<blockquote><p>“Hati siapa yang tak tergerak untuk memiliki seluruh keindahan ini?” Lam Li bertanya retorik.</p></blockquote>
<p>Betapa sebuah kerajaan agung bermula dari puncak bukit ini, bermula dari pemandangan indah yang memukau, menggerakkan hati sang penakluk untuk memulai perjuangan, pengembaraan, dan penjelajahan.</p>
<div id="attachment_194" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081229p.jpg"><img class="size-full wp-image-194" title="081229p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081229p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Perempuan desa pun merokok." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Perempuan desa pun merokok.</p></div>
<p>Dari tempat sunyi ini pulalah, pasukan Gurkha terkenal di seluruh penjuru dunia sebagai tentara tangguh. Sultan Brunei dikawal tentara Gurkha. Perbatasan Singapura pun dijaga oleh tentara Gurkha. Dalam British Army, Gurkha adalah pasukan elit. Konon Gurkha tak pernah menghunuskan kukri – pisau tradisional Nepal yang berujung bengkok tanpa ada darah yang tercurah.</p>
<p>Tentara Gurkha menarik perhatian pemerintahan kolonial Inggris ketika mereka gigih berjuang memadamkan Pemberontakan Sepoy tahun 1857 – 1858. Tentara Nepal di bawah pemerintahan Perdana Menteri Jang Bahadur Rana, ikut berjuang bersama pemerintah Inggris menumpas pemberontak. Tentara Gurkha punya daya tahan dan kemampuan adaptasi terhadap segala jenis medan yang tak terbandingkan. Inggris pun membawa pasukan Gurkha untuk bertempur di Afghanistan di akhir abad ke-19, Assam di timur laut India, sampai ke Burma.</p>
<p>Dari puncak bukit ini, seluruh dataran di bawah sana tampak jelas. Puncak-puncak bukit di kejauhan terpantau. Cocok menjadi tempat pengintaian tentara yang masih harus berjuang keras menghadapi pemberontakan gerilayawan Maois yang berakar dari dusun-dusun miskin di pegunungan.</p>
<p>Biasanya, tempat bersejarah di Nepal selalu diserbu turis. Tetapi Gorkha begitu lengang, kami tak melihat orang asing lainnya. Istana Durbar di puncak bukit ini pun tak ada orang, hanya tentara yang berpatroli dengan senapan. Ada yang bersembunyi di puncak kuil, ada yang di balik tembok. Bekerja di tempat sesunyi ini, memandangi barisan bukit dan hutan hijau sepanjang hari, mungkin termasuk daftar pilihan pekerjaan paling membosankan yang bisa dibayangkan. Tetapi itulah dedikasi. Kerajaan Nepal sedang dalam keadaan genting.</p>
<div id="attachment_195" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081442p.jpg"><img class="size-full wp-image-195" title="081442p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081442p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Seragam sekolah." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Seragam sekolah.</p></div>
<p>Karena letaknya, di sini fotografi dilarang keras. Turis tak perlu membayar karcis, tetapi harus menuliskan data paspor di buku tamu. Walaupun istana ini indah, tetapi jangan coba-coba memotret karena hukumannya langsung penjara.</p>
<p>Selain istana, bangunan di puncak bukit ini adalah tempat pemujaan Dewi Durga. Gambar sang dewi perang terukir di dinding batu di atas tanah. Seorang wanita desa bersarung batik dengan memejamkan mata, membaca doa, menempelkan sekuntum bunga merah di dahi patung sang dewi.</p>
<p>Istana Prithvi Narayan Shah di Gorkha ada dua. Satu di puncak bukit ini, yang sama sekali tidak boleh dipotret, satunya lagi di kaki bukit. Terbuat dari kayu berukir burung merak dan sulur-suluran. Arsitektur Nepal harus dinikmati dari detailnya, di mana setiap sudut ukiran mengundang decak kagum akan ketelatenan sang seniman.</p>
<p>Ketika kami berjalan turun menapaki tangga di lereng bukit, Qingqing sempat menjerit melihat ular gemuk yang melintas dengan santai. Perempuan desa yang bersama kami sampai melompat-lompat sambil berteriak, mengatakan bahwa ular itu sangat berbisa. Di sini banyak ular, katanya. Dengan kegalauan gara-gara ular, saya sempat silap kaki waktu menuruni tangga. Terpeleset, terguling, kesleo sampai tak bisa berjalan lagi.</p>
<p>Sore hari, kami sampai di dusun Abu Karim, persimpangan jalan antara Gorkha dengan jalan raya Kathmandu – Pokhara. Tak ada mobil sama sekali yang menuju Kathmandu.</p>
<blockquote><p>“Sekarang sudah jam empat sore, di sini berlaku curfew – jam malam,” kata seorang penduduk, Abu Karim.</p></blockquote>
<p>Jam malam diberlakukan sejak keamanan memburuk karena aktivitas gerilyawan Maois yang merongrong Kerajaan.</p>
<p>Kami terpaksa menginap di sebuah penginapan kuno di sudut jalan. Pemiliknya adalah pria tua yang gagah. Di losmen ini tergantung barisan foto hitam putih, masa kejayaannya ketika masih muda dulu. Siapa sangka, lelaki tua ini dulu begitu tampan, kumisnya tipis menambah aura kejantantan. Dadanya bidang, seragamnya berkelas.</p>
<blockquote><p>“Saya dulu tentara Gurkha, pernah melaksanakan misi di Singapura,” katanya dalam bahasa Melayu yang sangat fasih.</p></blockquote>
<p>(<a href="http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/09/titik-nol-49-sirkuit-annapurna/" target="_blank">Bersambung</a>)</p>
<p><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/08/08290489/titik.nol.48.istana.di.puncak.bukit" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=184&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/08/titik-nol-48-istana-di-puncak-bukit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081146p1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">081146p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081324p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">081324p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081229p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">081229p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/081442p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">081442p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (47): Pernikahan Seorang Kawan</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/07/titik-nol-47-pernikahan-seorang-kawan/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/07/titik-nol-47-pernikahan-seorang-kawan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 00:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (47): Pernikahan Seorang Kawan Nepal Selasa, 7 Oktober 2008 &#124; 07:51 WIB Kami sampai di kota Gorkha, asal muasal nama tentara Gurkha yang termasyhur di seluruh dunia itu. Bukan untuk mencari pasukan, tetapi untuk menonton acara pernikahan. Namanya Deepak. Umurnya seumuran dengan saya. Ia bicara bahasa Melayu patah-patah, tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=134&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker<br />
<strong>Titik Nol (47): Pernikahan Seorang Kawan</strong><br />
Nepal</p>
<p>Selasa, 7 Oktober 2008 | 07:51 WIB</p>
<div id="attachment_137" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/215907p.jpg"><img class="size-full wp-image-137" title="215907p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/215907p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Gorkha, alamnya seperti Indonesia." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Gorkha, alamnya seperti Indonesia.</p></div>
<p>Kami sampai di kota Gorkha, asal muasal nama tentara Gurkha yang termasyhur di seluruh dunia itu. Bukan untuk mencari pasukan, tetapi untuk menonton acara pernikahan.</p>
<p>Namanya Deepak. Umurnya seumuran dengan saya. Ia bicara bahasa Melayu patah-patah, tetapi lagak bicaranya seperti bos besar saja, mungkin belajar dari majikannya di Johor Bahru.</p>
<blockquote><p>“Nanti di Gorkha boleh tengok orang kawin, you know! Gorkha jauh sangat, you know! Nak ambil bus, sampai sana boleh tengok-tengok, you know!”<span id="more-134"></span></p></blockquote>
<p>Lam Li kenal Deepak di Freak Streeet. Mereka langsung akrab, karena pengalaman Deepak bekerja di Malaysia. Seperti halnya tenaga kerja asal Indonesia, pekerja asal Nepal, India, Pakistan, dan Bangladesh pun banyak di Malaysia. Deepak cuma pekerja kasar saja di sana, jadi pelayan di toko onderdil.</p>
<p>Pria kerempeng berkulit gelap ini berkata bahwa ada kawannya yang menikah di dusun Ghorka. Ia mengajak Lam Li, yang mengajak Qingqing si gadis Beijing, yang kemudian mengajak saya. Jadilah rombongan kami berangkat pukul enam pagi dari Kathmandu yang masih dingin.</p>
<p>Gorkha terletak sekitar 150 kilometer dari ibu kota, melintasi jalan raya utama Kathmandu – Pokhara, berbelok ke utara di pertigaan Abu Karim. Walaupun dulunya pekerja kasar di Malaysia, Deepak lebih bergaya. Ia tak mau naik bus murah, takut muntah katanya. Kami terpaksa menuruti keinginannya, naik angkutan kota yang lebih mahal.</p>
<p>Sebenarnya bus lebih nyaman daripada naik angkutan seperti ini, di mana belasan penumpang dijejalkan dalam mobil kecil, melintasi jalan raya sempit yang berbelok-belok. Perut saya mual, sejak pagi belum makan. Sebenarnya sebelum berangkat, kami sudah menawari Deepak untuk makan terlebih dahulu di warung sebelah terminal. Tetapi pria desa ini tak mau. Airnya kotor, alasannya.</p>
<p>Deepak sangat pemilih dalam hal makanan karena ia berasal dari kasta Brahmana. Untuk membuktikan ke-Brahmana-annya, ia menunjukkan tali putih suci yang menyilang dari pundak kanan ke pinggang kiri, melekat terus di tubuhnya sepanjang tahun. Ke-Brahmana-annya itu pula yang membuatnya rewel, tak mau makan masakan orang dari kasta yang lebih rendah.</p>
<p>Berjam-jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kampung halamannya Deepak. Wajahnya riang. Ia melompat turun mobil penuh semangat. Kami harus membayar ongkosnya karena ia beralasan tak bawa uang. Tak ada raut bersalah di wajahnya.</p>
<blockquote><p>“Hmm&#8230; orang ini benar-benar memanfaatkan kita,” Lam Li yang selalu penuh perhitungan berkomentar, “Dia yang mau lihat orang kawin, dia pikir dengan bawa kita bisa menumpang gratis.”</p></blockquote>
<p>Kecurigaan Lam Li mungkin ada benarnya. Sesampainya di Gorkha, kami dititipkan di rumah kakak perempuannya yang buka toko. Deepak tampak sibuk menelepon kawannya, tetapi tak ada jawaban. Kami berangkat dari Kathmandu pagi-pagi, sampai di sini hanya disuruh menunggu, karena Deepak tak tahu di mana acara pernikahan akan berlangsung. Mengapa tidak langsung saja ke rumah temannya itu? Deepak tak menjawab, santai saja ia melenggang meninggalkan kami yang cuma menunggu dipenuhi keheranan.</p>
<p>Beginikah caranya membawa tamu ke kampung halaman? Baru saja dua jam kami di Gorkha, Deepak yang datang dengan tangan kosong menanyakan kapan kami kembali lagi ke Kathmandu.</p>
<blockquote><p>“Macam ia sudah bosan di sini, nak cari tumpangan percuma kembali ke ibu kota. Jangan harap!” Lam Li yang menjadi pemimpin rombongan kami sudah habis kesabarannya.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Sudah, lupakan saja acara pernikahan itu. Saya yakin bahkan acara pernikahan itu pun cuma sekadar bualannya saja.”</p></blockquote>
<p>Tanpa berpamitan dengan Deepak yang sudah menghilang lagi di kampungnya, kami memutuskan meninggalkan rumah ini, mencari penginapan murah di bukit.</p>
<div id="attachment_135" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/220426p.jpg"><img class="size-full wp-image-135" title="220426p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/220426p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Seorang perempuan Gorkha dan bayinya." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang perempuan Gorkha dan bayinya.</p></div>
<p>Hotel Gorkha Bisauni menjulang mewah, seperti vila nyaman di pegunungan yang sejuk. Tetapi tak ada turis sama sekali, sepi tak terkira. Harga kamar yang semula ratusan Rupee, akhirnya berhasil ditawar jadi 50 Rupee saja per ranjang.</p>
<p>Deepak dan seorang kawannya, yang juga Brahmana, sama-sama kerempeng, dan sama-sama punya hobi memamerkan tali suci di bawah baju, akhirnya menemukan jejak kami menginap di hotel ini. Ketika Lam Li dan Qingqing pergi mandi, Deepak mendekati saya.</p>
<blockquote><p>“Gadis cantik berambut panjang itu, siapa? Orang Cina kah? You know, saya tengok dia, suka betul. Apa nama dia?”</p></blockquote>
<p>Dengan gaya bicaranya yang seperti majikan, ditambah wajah polos dan seringai yang aneh, Deepak berkata, “You know, kami berdua juga nak tinggal di kamar ini. Boleh tak?” Lam Li menjawab tegas, “NO!”</p>
<p>Kami berpura-pura hendak beristirahat, akhirnya berhasil juga membujuk Deepak dan kawannya itu pulang. Lepas juga dari incaran mereka. Setelah yakin kedua orang itu sudah tak ada di sekitar hotel, kami mengendap-endap ke arah bukit di utara.</p>
<p>Pedesaan Gorkha seperti Indonesia. Bentuk bukit-bukit hijau diselimuti awan mengingatkan saya pada lanskap Sumatra. Kaum perempuan di desa ini suka memakai sarung, yang motifnya persis sama dengan di Indonesia.</p>
<p>Di pasar desa, barisan sarung batik dijajar. Labelnya masih belum dilepas, tertulis besar-besar dalam bahasa Indonesia: “Terima kasih atas kepercayaan Bapak/Ibu/Saudara yang telah memilih hasil produksi kami.” Sembilan puluh persen buatan Yogyakarta. Sisanya produk Singapura dan Malaysia.</p>
<p>Nuansa Asia Tenggara lebih kental lagi. Anak-anak sekolah dasar Nepal seragamnya persis sama dengan seragam SD Indonesia – baju putih, bawahan merah, bahkan dasinya pun merah. Dua jam jalan santai di perkampungan, kami sudah berjumpa enam lelaki yang fasih berbahasa Melayu.</p>
<blockquote><p>“Macam bukan ada di Nepal saja, macam lagi di Malaysia. Seram betul,” komentar Lam Li.</p></blockquote>
<div id="attachment_136" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/220040p.jpg"><img class="size-full wp-image-136" title="220040p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/220040p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Bahkan sarungnya pun dari Indonesia." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Bahkan sarungnya pun dari Indonesia.</p></div>
<p>Mengenai fenomena banyaknya pekerja Nepal di Malaysia, saya teringat waktu di Bhaktapur seorang pemuda menyatakan impiannya untuk bekerja ke Malaysia memperbaiki nasib. Tetapi visa Malaysia mahal sekali. Untuk visa kerja, dia harus merogoh 2.000 dolar, sedangkan visa turis pun 500 dolar.</p>
<blockquote><p>“Mungkin ini memang karma untuk dilahirkan jadi orang miskin di Nepal,” keluhnya.</p></blockquote>
<p>Setidaknya, kami menemukan petunjuk yang menguatkan kecurigaan Lam Li terhadap taktik Deepak.</p>
<blockquote><p>“Tak mungkin ada pernikahan di sini sekarang,” kata seorang penduduk desa, “karena sebentar lagi adalah festival Dasain, pemujaan Durga. Orang Nepal tak menyelenggarakan pernikahan dua bulan ini, sampai perayaan Dasain usai.”</p></blockquote>
<p>Pernikahan di Gorkha mungkin memang akal-akalan si Deepak. Tetapi kami sudah tak peduli lagi. Bisa berada di sini pun, menemukan ‘Indonesia’ dan ‘Malaysia’ tersembunyi di perbukitan Nepal, kami sudah teramat girang.</p>
<p>(Bersambung)</p>
<p><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/07/0751489/titik.nol.47.pernikahan.seorang.kawan" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=134&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/07/titik-nol-47-pernikahan-seorang-kawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/215907p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">215907p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/220426p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">220426p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/220040p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">220040p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (46): Laporan Kehilangan</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/06/titik-nol-46-laporan-kehilangan/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/06/titik-nol-46-laporan-kehilangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 00:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (46): Laporan Kehilangan Nepal Senin, 6 Oktober 2008 &#124; 07:41 WIB “Sudahlah,” Lam Li menghibur saya yang masih bersedih gara-gara dompet yang tercopet, “Yang lalu biarlah berlalu. Percayalah, sekali kejadian buruk, serentetan keberuntungan akan menantimu. Bukan begitu?” Lam Li menoleh ke arah dua pandita Rusia. Yang satu sibuk dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=141&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker</p>
<p>Titik Nol (46): Laporan Kehilangan<br />
Nepal<br />
Senin, 6 Oktober 2008 | 07:41 WIB</p>
<blockquote><p>“Sudahlah,” Lam Li menghibur saya yang masih bersedih gara-gara dompet yang tercopet, “Yang lalu biarlah berlalu. Percayalah, sekali kejadian buruk, serentetan keberuntungan akan menantimu. Bukan begitu?”</p></blockquote>
<p>Lam Li menoleh ke arah dua pandita Rusia. Yang satu sibuk dengan butir-butir rudraksha dan satunya lagi baru saja memasak bubur warna-warni untuk sesaji.</p>
<blockquote><p>“Tidak, bukan begitu,” kata pria bule berjubah itu, “Dalam ajaran Budha, kalau kamu mengalami kejadian buruk, itu tandanya karma burukmu berkurang. Kejadian buruk masih bisa terjadi lagi, imbalan karma dari apa yang sudah kamu perbuat. Percayalah, semuanya itu ada yang mengatur, karma adalah timbangan yang paling adil.”<span id="more-141"></span></p></blockquote>
<p>Setelah semalam suntuk saya tak bisa tidur gara-gara kecopetan, hari ini pun saya masih belum tenang. Dengan berbekal fotokopi paspor dan foto diri yang memalukan – mata mengantuk dan sembab, rambut acak-acakan, karena baru dipotret dua jam lalu ketika saya masih syok dengan kejadian kemarin, saya menggeret Lam Li dan Qingqing ke kantor polisi di sebelah lapangan Hanuman Dhoka.</p>
<p>Kantor polisi ini tak pernah sepi. Selain polisi yang bersliweran ke sana ke mari, banyak pula pengunjung. Selain saya, ada pula turis yang melapor dompet hilang, paspor hilang, kamera hilang, dan sebagainya. Musim festival begini memang panen raya para maling.</p>
<div id="attachment_142" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/205401p.jpg"><img class="size-full wp-image-142" title="205401p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/205401p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Ruang kerja kantor polisi Hanuman Dhoka." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ruang kerja kantor polisi Hanuman Dhoka.</p></div>
<p>Di ruangan khusus untuk kasus orang asing, ada sebuah papan yang penuh ditempeli kartu identitas macam-macam. Ada kartu pengenal dan kartu mahasiswa dari Polandia, Inggris, China, sampai Afrika Selatan. Di setiap kartu terpampang wajah-wajah pemiliknya. Mereka yang terpampang di sini, suatu saat pasti pernah mengalami rasanya kelabakan kehilangan kartu identitas di Kathmandu. Sayangnya, kartu saya tak ada di kumpulan ratusan kartu hilang ini.</p>
<blockquote><p>“Petugasnya sedang tak ada,” kata polisi, “Begini saja, kamu tinggalkan foto dan fotokopi paspormu di sini. Nanti saya sampaikan. Seminggu lagi kamu datang lagi ke sini ya. Investigasi sudah bisa dimulai.”</p></blockquote>
<p>‘Investigasi’, ah betapa indahnya kata itu. Saya menaruh harapan sepenuhnya. Tepat seminggu kemudian, saya datang lagi dengan setumpuk impian – surat laporan kehilangan sudah jadi dan dompet saya berisi kartu-kartu identitas bisa kembali ke genggaman..</p>
<p>Tetapi saya memang terlalu optimis. Jangankan dompet kembali, mengurus laporan kehilangan pun perjuangannya masih sangat panjang. Laporan saya sama sekali belum diketik. Foto dan fotokopi paspor yang sudah saya serahkan seminggu sebelumnya pun hilang, entah terselip di mana.</p>
<p>Di kantor urusan orang asing ini, seorang wanita bertubuh subur, memakai sari yang memamerkan lipatan lemak di perutnya, mengetik dengan mesin tua. Hanya suara ketikan saja yang keras, kecepatan mengetiknya teramat lambat, mengandalkan dua jari telunjuk. Ia bukan sedang mengetik laporan kehilangan tetapi masih ada setumpuk pekerjaan lainnya.</p>
<blockquote><p>“Panj minut. Lima menit lagi ya&#8230;” katanya, sementara kedua matanya masih tertuju pada kertas dan papan ketik.</p></blockquote>
<p>Lima menit orang Nepal&#8230; Saya sudah menunggu setengah jam, tak selesai juga.</p>
<blockquote><p>“Bagaimana kalau saya datang lagi besok lusa?” saya menawarkan.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Ide bagus. Kalau datang besok lusa, surat ini pasti sudah selesai. Pasti!”</p></blockquote>
<p>Dua hari penantian berlalu. Saya datang lagi ke kantor polisi. Masih ruangan yang sama, ruang gelap yang sempit bising oleh bunyi mesin ketik. Perempuan bertubuh subur itu sedang tidak ada. Dua petugas lainnya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris.</p>
<blockquote><p>“Tunggu saja setengah jam lagi, ia pasti datang.”</p></blockquote>
<p>Setengah jam berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda wanita gemuk itu. Kalau kemarin mereka bilang ‘lima menit’ dan dikonversi ke waktu normal saya jadi dua hari, kali ini ‘setengah jam’ standar mereka entah sama dengan berapa hari di dunia normal. Saya minta ijin untuk sarapan dulu, nanti datang lagi.</p>
<blockquote><p>“Jangan pergi&#8230;. Sepuluh menit lagi dia juga datang,” kata pria berkumis yang juga sibuk mengetik.</p></blockquote>
<p>Tiga puluh, sepuluh, lima menit, semuanya keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah ia adalah yang berkuasa menentukan aliran waktu yang merayap lambat di kantor ini. Saya bersikukuh untuk pergi sarapan.</p>
<p>Tiga jam kemudian, saya datang lagi ke kantor ini. Ini sudah kali kelima. Perempuan yang ditunggu-tunggu dari tadi belum datang juga. Untung saya tidak percaya ‘sepuluh menit’-nya pegawai yang kini juga sudah menghilang.</p>
<p>Tepat di saat saya sudah hendak melangkah pergi diliputi kekecewaan, perempuan bersari warna biru itu datang. Tugasnya sudah menumpuk, masih ditambah lagi saya yang rewel supaya ia cepat menyelesaikan laporan kehilangan saya.</p>
<p>Ia mengetik dengan dua jarinya yang gemuk. “Tak&#8230;tak&#8230; tak&#8230;”.. Pandangannya berpindah-pindah dari formulir ke papan tuts, sepertinya masih belum hapal letak huruf-huruf mesin ketik. Lima menit menunggu – standar waktu normal – akhirnya jadi pula surat itu. Saya membaca. Nama saya salah ketik. Alamat saya salah ketik. Kewarganegaraan saya salah ketik. Jumlah uang yang hilang pun salah ketik.</p>
<p>Sambil mendengus kesal, ia mengetik ulang. Kecepatan yang sama, tetapi diiring kesal karena pekerjaannya tidak selesai-selesai.</p>
<p>Saya dibawa ke gedung tinggi di sebelah, gelap gulita seperti penjara. Di sini saya menemui atasan perempuan itu. Laporan kehilangan ditandatangani, dan saya diminta bayar 200 Rupee.</p>
<p>Korban kecopetan masih harus bayar pula. Tidak murah untuk selembar kertas ketikan awut-awutan yang saya juga tidak tahu apa gunanya.</p>
<blockquote><p>“OK, masalah kamu sudah selesai,” kata perempuan itu, meminta saya pulang dan mengecek email tiap hari kalau-kalau dompet saya berhasil ditemukan.</p></blockquote>
<p>Yang dimaksud dengan ‘masalah kamu’ sebenarnya adalah masalahnya sendiri. Sekarang ia sudah bisa lepas dari turis lugu yang menyambanginya hampir tiap hari. Investigasi&#8230; lupakan saja. Melihat cara mereka membuat laporan, saya sudah tak punya harapan lagi dompet saya ketemu, apalagi janji gombal sampai dikirim via DHL ke kedutaan saya di New Delhi.</p>
<blockquote><p>“Masalahmu sudah selesai. Good luck!” Perempuan itu tersenyum. Saya melangkah gontai meninggalkan kantor polisi Hanuman Dhoka.</p></blockquote>
<p>(<a href="http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/07/titik-nol-47-pernikahan-seorang-kawan/" target="_blank">Bersambung</a>)</p>
<p><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/06/07412640/titik.nol.46.laporan.kehilangan" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=141&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/06/titik-nol-46-laporan-kehilangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/205401p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">205401p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (45): Dewi Hidup</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/03/titik-nol-45-dewi-hidup/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/03/titik-nol-45-dewi-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 00:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Nepal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (45): Dewi Hidup Nepal Jumat, 3 Oktober 2008 &#124; 07:33 WIB Hari ini adalah hari keempat perayaan Indra Jatra. Kumari Devi, sang dewi hidup, akan memberikan pemberkatan bagi raja dan seluruh warga Kathmandu. Mozaik warna-warni Nepal membungkus Lapangan Durbar dalam gelora perayaan. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana kebiasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=144&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker<br />
<strong>Titik Nol (45): Dewi Hidup</strong><br />
Nepal<br />
Jumat, 3 Oktober 2008 | 07:33 WIB</p>
<div id="attachment_146" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073227p.jpg"><img class="size-full wp-image-146" title="073227p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073227p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Ratusan perempuan Nepal berkumpul untuk menyaksikan Raja dan Sang Dewi Hidup." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ratusan perempuan Nepal berkumpul untuk menyaksikan Raja dan Sang Dewi Hidup.</p></div>
<p>Hari ini adalah hari keempat perayaan Indra Jatra. Kumari Devi, sang dewi hidup, akan memberikan pemberkatan bagi raja dan seluruh warga Kathmandu. Mozaik warna-warni Nepal membungkus Lapangan Durbar dalam gelora perayaan.</p>
<p>Tidak ada yang tahu pasti bagaimana kebiasaan menyembah dewi hidup di Nepal bermula. Legenda mengatakan, raja Jayaprakash Malla dari abad ke-17 terpesona oleh kecantikan Dewi Taleju waktu bermain catur dengan sang dewi pelindung kerajaannya. Kecantikan itu membangkitkan nafsu birahinya. Sang Dewi, yang bisa membaca pikiran raja, marah besar dan mengutuknya. Dewi meninggalkan istana itu sambil memberi tahu titisan berikutnya adalah seorang gadis muda dari kasta rendah.<span id="more-144"></span></p>
<p>Gadis yang dipercaya sebagai titisan Dewi Taleju dijadikan Kumari Devi, dewi hidup pelindung keluarga kerajaan dan Lembah Kathmandu. Tradisi itu berlangsung hingga sekarang. Kathmandu, Bhaktapur, dan Patan masing-masing punya seorang Kumari Devi yang dipuja umat Hindu dan Budha Newari.</p>
<div id="attachment_148" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073140p.jpg"><img class="size-full wp-image-148" title="073140p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073140p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Sang Dewi mengintip dari balik jendela istananya." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sang Dewi mengintip dari balik jendela istananya.</p></div>
<p>Kumari Devi dipilih melalui serangkaian upacara dan pemilihan yang mirip dengan tradisi Budha Tantrayana di Tibet dalam memilih Dalai Lama dan Panchen Lama. Serangkaian mimpi, ilham, dan firasat menunjukkan letak nominasi titisan Dewi Taleju. Gadis-gadis kecil keluarga Budha Newari dari kasta Sakya, sekitar empat tahun umurnya, yang memenuhi 32 syarat fisik kesempurnaan, selanjutnya menjalani serangkaian tes untuk menentukan mana yang Kumari sejati. Gadis yang bisa menunjukkan barang-barang yang dipakai Kumari sebelumnya dan tidak takut menjalani upacara seram dengan penari bertopeng kerbau, adalah Kumari yang sesungguhnya.</p>
<p>Sang Kumari kemudian tinggal dalam ‘penjara’-nya yang mewah – Kumari Ghar (Rumah Kumari), bangunan indah di hadapan Istana Durbar.. Di sini, setiap hari ia menerima kunjungan umat yang mencari berkat. Ia bermandi limpahan sesaji dan manisan yang dibawa oleh umat. Ia menjalani hidup yang ketat dalam istana ini. Tak bebas bertemu keluarga dan kawan-kawannya, tak boleh sembarangan keluar, dan tak pergi sekolah. Hidup Kumari diatur oleh para penjaganya, makan, tidur, sembahyang puja, bermain, berjumpa keluarga, semuanya ada yang mengatur.</p>
<p>Gadis ini begitu suci, sehingga istananya tak boleh dirambah oleh orang yang bukan Hindu. Wajahnya tak boleh dipotret. Bahkan raja pun menciumi kakinya yang tak pernah menginjak tanah untuk mendapatkan berkah. Tetapi kesuciannya langsung berakhir begitu ia mengalami pendarahan pertama. Dewi Taleju meninggalkan tubuhnya. Kumari, dari seorang dewi hidup berubah kembali menjadi manusia biasa. Kumari berikutnya harus dicari lagi, melalui proses jampi-jampi, ilham, ujian, dan pentahbisan yang sama.</p>
<p>Satu hari dalam setahun, di hari Kumari Jatra yang menjadi puncak perayaan Indra Jatra, sang Kumari Devi keluar dari istananya untuk memberkahi raja dan seluruh kota Kathmandu.</p>
<div id="attachment_147" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073312p.jpg"><img class="size-full wp-image-147" title="073312p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073312p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Prajurit Gurkha" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Prajurit Gurkha</p></div>
<p>Sejak tengah hari, lapangan di hadapan istana Durbar sudah penuh oleh lautan manusia. Di bawah kuil Taleju, ribuan perempuan duduk di atas undak-undakan. Sari yang dikenakan berwarna-warni, membentuk mozaik warna yang mengguratkan keragaman dan keceriaan Nepal. Kaum pria, turis, dan jurnalis masing-masing punya tempatnya sendiri.</p>
<p>Pengamanan sangat ketat. Sejak tengah hari jalan dan lorong menuju Lapangan Durbar diblokir untuk lalu lintas dan pejalan kaki. Polisi dan tentara di mana-mana. Dari jendela lantai atas Kumari Ghar, sang dewi mengintip.</p>
<p>Kumari Devi dibalut baju merah menyala. Mahkotanya membumbung tinggi, berhias bunga-bungaan raksasa. Matanya yang besar dikelilingi celak hitam. Di dahinya tergambar mata ketiga – agni chakchu atau ‘mata api’, pertanda suci kedewiannya.</p>
<p>Tetapi, di lubang jendela, saya melihat dua pasang mata gadis Kumari yang sama persis. Bukankah Kumari Devi hanya ada satu?</p>
<p>Mungkin yang saya lihat bukan Kumari, melainkan dua pengiringnya yang berdandan sama persis – Bhairab (Bhairawa) dan Ganesh (Ganesha). Kedua gadis titisan Bhairab dan Ganesh juga menjalani proses pemilihan yang sama seperti Kumari, tetapi tak perlu menjalani aturan seketat sang dewi.</p>
<p>Ketiga gadis suci diarak dengan kereta kencana memasuki istana. Raja Gyanendra dan keluarga datang dengan mobil, langsung memasuki tempat sembahyang di istana Gaddi Baithak yang bergaya arsitektur Viktorian.. Para diplomat dan tamu asing menonton dari balkon istana megah itu. Pengawal kerajaan yang mengawal tamu kehormatan berpakaian tradisional – jubah jodhpur kombor putih bersih dengan celana yang ketat, jas hitam, dan topi – peci orang Nepal.</p>
<p>Saya terkesima oleh gagahnya pasukan Gurkha yang berbaris di hadapan istana. Mereka adalah prajurit pilihan. Semuanya tinggi, gagah, dan tampan. Bahkan tentara Gurkha perempuan pun tegas dan memesona. Di belakang pinggang, tersemat pisau khukuri berujung bengkok, senjata Gurkha yang mematikan.</p>
<p>Tak lama kemudian, Raja Gyanendra keluar lagi dari istana, melambaikan tangan ke arah penduduk, masuk ke dalam mobil kerajaan dan langsung meninggalkan lapangan. Lhake, penari bertopeng seram dan berambut gimbal, memulai arak-arakan kereta kencana yang ditumpangi Kumari. Tetabuhan membahana. Suasana lapangan menjadi meriah.</p>
<p>Hari ini Kumari, Bhairab, dan Ganesh akan berkeliling memberkahi seluruh penjuru kota. Parade tari-tarian dan tetabuhan menyusuri jalanan kota kuno Kathmandu yang sempit, membawa kegembiraan ke sudut-sudut kota. Lhake menari dengan penuh semangat. Penduduk pun bersuka cita, mencoba menyentuh kereta yang ditumpangi dewi. Menyentuh kereta ini pun dipercaya akan memberikan berkah.</p>
<div id="attachment_145" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/072838p.jpg"><img class="size-full wp-image-145" title="072838p" src="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/072838p.jpg?w=298&#038;h=225" alt="Lelah setelah berparade keliling kota." width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Lelah setelah berparade keliling kota.</p></div>
<p>Menjelang senja, setelah mengitari kota berjam-jam, kereta kencana Kumari sampai kembali ke Lapangan Basantpur. Penduduk pun berebutan memberi hormat kepada ketiga dewi muda ini, dan banyak pula yang memotret. Sungguh kasihan, dua jam duduk di dalam kereta, diterpa kilatan lampu flash yang tanpa henti, mereka tak menunjukkan ekspresi apa pun.</p>
<p>Malam hari, Kumari baru diturunkan dari kereta, dibopong lagi ke istananya karena kaki sucinya tak boleh menginjak tanah. Wajah mereka tampak pucat kelelahan, tanpa ekspresi. Kembalilah ia kepada kehidupannya yang sunyi, sebagai dewi yang dipuja dalam penjara istana megah. Tetapi pesta belum usai. Tari-tarian dan tetabuhan masih terus membahana. Dari mulut Seto Bhairab masih tersembur alkohol jaand, dan kaum lelaki berebutan meneguk siraman air suci yang memabukkan.</p>
<p>(<a href="http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/06/titik-nol-46-laporan-kehilangan/" target="_blank">Bersambung</a>)</p>
<p><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/03/0733468/titik.nol.45.dewi.hidup" target="_blank">sumber</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=144&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/10/03/titik-nol-45-dewi-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073227p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">073227p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073140p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">073140p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/073312p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">073312p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agustinuswibowo.files.wordpress.com/2008/10/072838p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">072838p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (16): Kebangsaan</title>
		<link>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/08/25/titik-nol-16-kebangsaan/</link>
		<comments>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/08/25/titik-nol-16-kebangsaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 00:11:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker]]></category>
		<category><![CDATA[Tibet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agustinuswibowo.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Titik Nol (16): Kebangsaan Tibet Senin, 25 Agustus 2008 &#124; 07:11 WIB Di dalam kesepian ini, saya malah merasakan kerinduan yang teramat dalam pada kampung halaman. Sudah dua jam kami berhenti untuk sarapan di Coqen. Ada yang aneh. Biasanya bus tak suka berhenti lama-lama. Untuk makan cuma tiga puluh menit, untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=120&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan Seorang Backpacker<br />
<strong>Titik Nol (16): Kebangsaan</strong><br />
Tibet<br />
Senin, 25 Agustus 2008 | 07:11 WIB</p>
<p>Di dalam kesepian ini, saya malah merasakan kerinduan yang teramat dalam pada kampung halaman.</p>
<p>Sudah dua jam kami berhenti untuk sarapan di Coqen. Ada yang aneh. Biasanya bus tak suka berhenti lama-lama. Untuk makan cuma tiga puluh menit, untuk buang air berombongan di pinggir jalan di tengah padang rumput luas, tak lebih dari tiga menit. Laki-laki dan perempuan pun sampai bersamaan melaksanakan hajat, karena bus kami yang merayap lambat di jalan selalu ‘tak punya waktu’ untuk berhenti.</p>
<p><span id="more-120"></span></p>
<p>Meninggalkan Coqen, bus bukan merambat lagi, tetapi merangkak. Empat puluh menit perjalanan, kami baru menempuh tujuh kilometer. Setelah itu, bus berhenti sama sekali. Rusak.</p>
<p>As roda patah. Perjalanan tak mungkin lagi dilanjutkan. Semua penumpang terdampar di padang rumput. Sekarang, tak seorang pun tahu kapan kami bisa sampai ke Lhasa.</p>
<blockquote><p>“Lhasa? Jangan mimpi. Bisa jalan lagi saja sudah hebat,” kata seorang penumpang berpakaian tentara sinis.</p></blockquote>
<p>Satu jam berlalu. Semula saya senang karena dengan terdampar di sini, monotonnya perjalanan di atas bus bisa sedikit terhapuskan. Semboyan perusahaan bus Tibetan Antelope, “Meiyou Lutou de Laoku, Zhiyou Zaijia de Xiangshou &#8211; Tak Ada Susahnya Perjalanan, Cuma Ada Nikmatnya Rumah Tinggal”, yang tertulis besar-besar di badan bus adalah ironi. Sudah lima puluh jam perjalanan penuh siksaan, entah kenikmatan rumah tinggal yang mana, kami bahkan masih berkutat di tempat gersang bergerunjal ini.</p>
<p>Dua jam berlalu, saya mulai bosan. Banyak penumpang yang kedinginan di padang, kembali lagi ke bus, tidur-tiduran.</p>
<p>Tiga jam, masih belum ada tanda-tanda berangkat pula. Sopir berhasil menumpang sepeda motor untuk balik lagi ke Coqen memanggil tukang servis. Penumpang para mahasiswa Tibet duduk di padang. Orang Tibet tampak kurang begitu membaur dengan orang Han &#8211; suku mayoritas di China. Mereka lebih suka mengumpul sendiri, berbicara dalam bahasa mereka yang berat. Mereka bersenda gurau sambil menggerogoti daging yak hitam yang sudah dikeringkan di atap rumah selama berbulan-bulan musim dingin. Saya mencicip sedikit. Bukan makanan favorit saya.</p>
<p>Orang-orang Tibet ini tertarik dengan peci Indonesia yang saya pakai. Mereka bergiliran hendak mencobanya. Ada kebiasaan mereka meludahi dulu topi sebelum dipasang di kepala. Alhasil setelah digilir sepuluh orang, peci saya jadi bau tak karuan.</p>
<p>Saya bergabung dengan sekelompok penumpang berpakaian tentara. Ada dua kelompok. Yang satu berjudi kartu. Satunya lagi diskusi kelas berat. Mereka semua orang Han, bukan tentara. Baju tentara sangat populer di sini, cocok dengan alam Tibet yang keras. Diskusi mereka pun tak kalah kerasnya, seputar militer, teori konspirasi, dan geopolitik dunia. Pria China gemar bicara politik di mana pun mereka berada. Bahkan para pemilik warung yang terdampar di tengah padang rumput dan gunung tinggi seperti ini.</p>
<blockquote><p>“Kalau menurutku, Amerika tak bakal menyerang Iran. Iran itu kuat, wilayahnya luas. Apalagi nanti malah memancing negara-negara Arab akan bersatu,” kata lelaki bertopi seperti tentara Mao.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Betul itu. Sejak Irak diserang, Timur Tengah sudah mulai mengawasi gerak-gerik Amerika,” kata pria botak satunya, entah dapat teori dari mana.</p></blockquote>
<blockquote><p>“Kalau China sudah kuat, Taiwan pasti juga tunduk. Separatis Xinjiang bungkam. Negara-negara tetangga pun takut. India apa lagi, mereka harus mendapat pelajaran,” ucap pria botak itu lagi.</p></blockquote>
<p>Semakin lama mereka berdiskusi, semakin rasa kebangsaan menggelora dalam jiwa mereka. Mulai dari Hong Kong, Macau, Taiwan, Tibet, Jepang, sampai kekuatan militer, nuklir, eksplorasi luar angkasa, kemajuan ekonomi yang luar biasa yang akan menyatukan seluruh China. Ada mimpi, kebanggaan, ego, kecintaan, harapan, dan masa depan. Kemajuan pesat yang diraih negeri ini dalam beberapa tahun terakhir memang pantas membuat rakyatnya berbangga.</p>
<p>Akhirnya, datang pula tim reparasi dari Coqen. As mobil diganti. Dengan penuh semangat semua penumpang naik ke tempat tidur masing-masing. Mesin dinyalakan.</p>
<p>Hanya gemuruh mesin yang terdengar. Bus ini sama sekali tak jalan.</p>
<blockquote><p>“Motor penggeraknya yang rusak,” tim reparasi mengumumkan. Wajah mereka sudah hitam legam berkutat dengan mesin butut ini.</p></blockquote>
<p>Sopir pasrah. Penumpang pasrah. Kami melanjutkan lagi kisah terdampar di sini.</p>
<p>Saya sudah mati rasa ketika akhirnya, menjelang senja, bus bergemuruh meninggalkan padang rumput. Di luar sana, masih padang luas yang kosong sambung-menyambung.</p>
<p>Hari keempat perjalanan, semangat saya sudah luntur. Bus masih berkali-kali mogok. Hujan deras mengguyur sepanjang jalan, menjadikan perbukitan ini menjadi lautan lumpur. Pernah bus kami hampir terhanyut seperti berlayar. Aneh, saya sudah tidak merasa apa-apa lagi, mati rasa dalam perjalanan yang menyiksa lahir batin.</p>
<p>Dusun Sangsang kira-kira separuh jalan menuju Lhasa, adalah tempat kami berhenti makan siang. Desa Tibet ini kumuh. Rumah-rumah berbentuk kotak bertebaran di mana-mana. Jalanan becek. Gerimis masih mengguyur. Belasan bocah dengan wajah bersimbah ingus kering datang menyerbu, menyembah-nyembah dan mengemis. Meja biliar di pinggir jalan, dengan orang Tibet yang sibuk bermain sepanjang hari. Pos polisi dan tentara di mana-mana, dan siaran propaganda sepanjang hari berkumandang melalui corong pengeras.</p>
<p>Hari ini adalah ulang tahun Republik Indonesia yang ke-60, saya malah terdampar sendirian dalam sebuah bus apek di tengah padang dan gunung. Dalam benak saya terbayang bagaimana meriahnya perayaan Agustusan di kampung halaman. Sudah tujuh tahun saya tak melihat karnaval yang langsung menyedot semua penduduk kota kecil Lumajang turun ke jalan-jalan. Betapa rindunya suasana itu&#8230;. Saya seorang diri, sambil menekuk lutut di ranjang sempit bus ini, menyanyikan lagu kebangsaan – Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Merauke, Hari Merdeka,&#8230;</p>
<p>Para penumpang yang kini sudah menjadi kawan akrab saya setelah kisah terdampar kemarin, tersenyum bercampur iba melihat saya yang kesepian di hari nasional.</p>
<blockquote><p>“Selamat Hari Kemerdekaan ya&#8230;,” pria botak berbaju tentara menghibur.</p></blockquote>
<p>(Bersambung)</p>
<p><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/08/25/0711516/titik.nol.16.kebangsaan#" target="_blank">sumber</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agustinuswibowo.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agustinuswibowo.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agustinuswibowo.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agustinuswibowo.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agustinuswibowo.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agustinuswibowo.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agustinuswibowo.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agustinuswibowo.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agustinuswibowo.wordpress.com&amp;blog=3290792&amp;post=120&amp;subd=agustinuswibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agustinuswibowo.wordpress.com/2008/08/25/titik-nol-16-kebangsaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
