Menembus Gunung-gunung

Catatan perjalanan Agustinus Wibowo melintasi lima negara Asia Tengah
Berkelana ke Negeri-negeri Stan (6)
I. Tajikistan – Negeri Seberang Sungai

Menembus Gunung-gunung

Di antara tempat yang paling terpukul di Tajikistan setelah perang saudara ketika negeri mungil ini baru berdiri, adalah provinsi GBAO, singkatan Gorny Badakhshan Avtomnaya Oblast, Provinsi Otonomi Pegunungan Badakhshan. Dalam bahasa Tajik disebut Viloyati Mukhtori Kuhistoni Badakhshan. Propinsi ini ikut memberontak terhadap Dushanbe dan menyatakan memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Dushanbe segera mengisolasi semua jalan menuju GBAO, menyebabkan kelaparan dan kemeleratan di mana-mana. Sebenarnya, tanpa isolasi dari pemerintah Tajikistan sendiri pun, GBAO sudah menjadi salah satu tempat paling terpencil di dunia. Gunung-gunung raksasa berselimut salju dari barisan Pegunungan Pamir sudah mengurung rapat-rapat tempat ini.

bocah-bocah-menawarkan-buah-buahan.jpeg

Bocah-bocah menawarkan buah-buahan pegunungan kepada kendaraan yang melintas.

Gunung-gunung itulah yang menyebabkan susahnya transportasi. Dari Dushanbe ke Khorog, ibukota GBAO, jaraknya 560 kilometer, ditempuh dalam waktu sekitar 20 jam dengan jeep yang tangguh. Biayanya 100 Somoni atau 30 dollar, sudah di atas gaji rata-rata bulanan orang Tajikistan.

Karena harga minyak yang sangat mahal, orang Tajikistan juga harus selalu memutar otak untuk menekan pengeluaran. Mobil pribadi pun bisa berubah menjadi angkutan umum. Saya ikut menumpang dalam sebuah jeep yang dimiliki oleh satu keluarga, terdiri dari seorang ibu tua dan tiga anaknya. Jeep ini bisa muat enam orang, jadi keluarga itu sibuk menyeret dua orang penumpang lagi dari terminal untuk meringankan ongkos perjalanan mereka. Salah satunya adalah saya.

Bakhtiyor, supir dari jeep ini, sekaligus anak dari ibu tua tadi, melarikan bus dengan riang gembira. Kami berhenti sebentar di pasar untuk membeli sambusa, semacam pastel yang menjadi makanan khas di seluruh negeri Asia Tengah. Tidak seorang pun di mobil ini yang berpuasa, walaupun semuanya mengaku Muslim. Alasannya bukan karena musafir. Bakhtiyor berkata berpuasa sembilan hari di bulan Ramadan sudah cukup, tiga hari di awal, tiga hari di tengah, tiga hari di akhir.

“Ibu mertuaku puasa. Istriku puasa. Anakku juga puasa. Jadi tidak perlu aku puasa juga. Kalau aku puasa, siapa nanti yang cari uang?”

Bakhtiyor, sebagai mana orang-orang Tajik di Pegunungan Pamir GBAO, adalah etnis Tajik Pamir yang menganut agama Islam sekte Ismaili. Sekte ini terkenal dengan ajaran-ajarannya yang sangat bebas. Tidak mewajibkan umat untuk berpuasa penuh dan tidak pula pergi naik haji.

Di bulan suci ini, selain kebanyakan orang tidak berpuasa, korupsi juga jalan terus. Dalam satu jam sejak kami meninggalkan Dushanbe, mobil kami sudah dihentikan lima kali oleh polisi lalu lintas. Bakhtiyor langsung melompat dari kursinya, membawa semua dokumen mobilnya. Ibunya menyelipkan selembar Somoni ke dalam tumpukan dokumen itu. Tidak peduli seberapa lengkapnya surat-surat, menyodorkan uang kepada polisi adalah keharusan. Polisi pertama minta 3 Somoni. Yang kedua 10 Somoni. Uang diram (1 Somoni = 100 diram) sama sekali tak berlaku di sini.

Polisi di negara-negara Asia Tengah lebih sebagai pembawa masalah daripada pelindung masyarakat. Saya ingat suatu hari saya dicegat dua orang polisi gendut di depan patung Ismail Somoni di Dushanbe. Dengan tersenyum ramah, dia bertanya,

“Kamu tahu sekarang bulan Ramadan? Ini mohi sharif, bulan suci. Jadi, berbuatlah kebaikan.” ‘Kebaikan’ yang dimaksudnya adalah selembar uang 10 Somoni. Uang untuk orang miskin, katanya.

Saya mengusap-usap perutnya yang tambun. ‘Orang miskin’ dengan perut sebesar ini? Dia tersipu-sipu malu. Saya balik bercerita tentang kemalangan saya, tentang uang saya yang dicuri di hotel di Dushanbe. Dia sedikit jatuh kasihan.

“Sudah, 5 Somoni saja.”

Sebagai orang asing, saya punya kebebasan untuk tidak memberi. Setidaknya saya cuma tamu di negara ini, yang tinggal tidak lebih dari satu bulan. Polisi sini tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tidak demikian halnya dengan Bakhtiyor, yang tidak punya pilihan lain dalam ketidakberdayaannya. Birokrasi yang rumit memang butuh minyak pelumas yang bagus untuk memutar rodanya. Semua butuh duit. Untuk orang asing, masih ada biaya visa (yang harganya boleh ditawar), permit, deklarasi, registrasi ini, registrasi itu. Birokrasi jadi salah satu sumber pemasukan utama.

Lepas dari korupsi hebatnya, Tajikistan memang negeri yang indah. Angka sembilan puluh tiga persen untuk pegunungan tinggi memoles wajah negeri ini habis-habisan. Ibarat gadis, Tajikistan berhidung mancung dengan gurat-gurat wajah yang kuat. Di kanan kiri gunung-gunung bersalju sambung-menyambung tiada henti. Lembah-lembah hijau menambah keperkasaan barisan pegunungan itu. Tetapi yang tidak kalah cantiknya adalah gadis-gadisnya yang memang sudah tersohor sejak zaman dahulu.

Sebulan yang lalu, ketika saya masih berada di Afghanistan, saya tidak akan pernah membayangkan pengalaman seperti ini. Samsiah, seorang gadis cantik, menyandarkan kepalanya di pundak saya, memejamkan mata, sambil menikmati alunan musik yang mengalir dari MP3 yang saya bawa. Terkadang kami bernyanyi bersama. Samsiah bisa menyanyikan lagu-lagu Tajik, Afghan, Iran, Rusia, bahkan India. Ibu tua yang duduk di depan tidak kalah gaulnya. Lagu-lagu disko terbaru dari Iran pun dia tahu, apalagi lagu-lagu Afghanistan, yang bahasanya dekat dengan bahasa Tajik.

Di Afghanistan sana jangankan bernyanyi bersama para gadis, duduk di samping wanita dan melihat wajah perempuan pun tidak boleh. Setelah sekian lama berkelana di Afghanistan, saya jadi kikuk juga berbicara sedekat ini dengan perempuan.

(Bersambung)

Agustinus Wibowo

sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s