Menuju Khorog

Catatan perjalanan Agustinus Wibowo melintasi lima negara Asia Tengah
Berkelana ke Negeri-negeri Stan (7)
I. Tajikistan – Negeri Seberang Sungai

Menuju Khorog

Saya teringat gurauan orang Afghan tentang tiga barang yang paling murah di Tajikistan – meva, piva, dan beva. Buah, bir, dan janda. Yang dimaksud dengan ‘janda’ adalah gadis-gadis Tajik yang bebas pergaulannya.

Selain cantik, perempuan Tajikistan juga tangguh tak kepalang. Jalan naik turun gunung memaksa mobil berkali-kali mogok. Barang bawaan yang diikatkan di atas kap mobil juga beberapa kali terlempar jatuh. Di bawah hujan rintik-rintik, para gadis dengan cekatan memunguti bagasi. Ibu tua dengan kekuatan ototnya ikut mendorong mobil.

gunung-salju-awan-tajik.jpeg

GUNUNG, SALJU, AWAN TAJIK — Berpetualang di Tajikistan, perpaduan antara gunung, salju, awan, dan sejumput keberanian

Jalan yang menghubungkan Dushanbe ke Khorog hingga Kyrgyzstan bernama jalan M-41. Nama kerennya adalah Pamir Highway. Lewat barisan gunung tinggi yang seperti tak tertembus ini, ternyata jalannya beraspal mulus, walaupun ada sedikit bolong-bolong yang mungkin baru muncul setelah Tajikistan merdeka dan kegagalan ekonomi terus mendera.

Saya jadi mengagumi kedigdayaan Uni Soviet, yang masih memberi perhatian ke tempat paling terpencil di mantan negara raksasa itu. Tajikistan tak lebih dari ujung kukunya Uni Soviet, tetapi juga pernah menjadi pusat kegiatan basmachi, pemberontakan umat Muslim terhadap rejim komunis. Dan Pamir, siapa yang peduli tempat terpencil yang dikurung gunung-gunung ini? Tetapi nyatanya, jalan beraspal yang mulus juga dibangun untuk sampai ke pelosok-pelosok desa. Jaringan listrik juga merambah seluruh penjuru. Semua orang, laki-laki maupun perempuan, menikmati bangku pendidikan.

Pukul sepuluh malam, mobil kami melewati puncak gunung Khaburabot. Salju sudah turun di sini. Untungnya mobil tidak selip. Karena mendorong-dorong mobil yang mogok di tumpukan salju, tengah malam begini, tentu bukan pekerjaan yang asyik.

Kalaikum, puncak gunung salju kedua, adalah pintu masuk menuju GBAO, provinsi paling sensitif di Tajikistan. Semua orang harus menunjukkan paspor. Orang Tajikistan tidak punya KTP, hanya punya paspor. Warga negara Tajikistan yang bukan penduduk GBAO pun tidak boleh sembarangan masuk sini. Orang asing apalagi, harus punya permit khusus.

Tentara pemeriksa paspor masih muda. Umurnya baru 18 tahun. Ibu tua menyuruh saya menyelipkan selembar Somoni ke paspor saya. Mungkin memang itu sudah jadi kebiasaan orang sini kalau diperiksa paspornya. Tetapi saya tidak mau ikut-ikutan jadi tukang sogok.

“Kamu suka pekerjaan kamu?” saya bertanya pada tentara muda itu.

“Suka? Apanya yang suka? Di sini cuma gunung, kamu lihat, hanya ada gunung! Aku kangen istri. Di sini tidak ada apa-apa!”

Pemuda ini berasal dari Dushanbe. Ditempatkan di puncak gunung terpencil dan sunyi ini, memeriksa paspor di tengah malam buta di bawah siraman salju, memang bukan cita-citanya. Dia ke sini karena terpaksa. Tajikistan memberlakukan wajib militer terhadap semua warga negaranya yang laki-laki. Mereka harus siap ditempatkan di mana saja, selama dua tahun, untuk melayani kepentingan negara.

Tentara itu senang sekali mendapat teman ngobrol, sampai lupa menarik upeti. Selepas dari Kalaikum, kondisi jalan berubah menjadi amat sangat mulus. Tidak berlubang-lubang lagi. Provinsi GBAO, walaupun terisolasi, tidak mengalami pertumpahan darah secara langsung selama masa-masa perang saudara Tajikistan. Jalan yang mulus semakin membuat Bakhtiyor bersemangat menyupir mobilnya. Dia tidak tidur sama sekali. Yang membuatnya terjaga sepanjang malam adalah nas, bubuk tembakau halus yang dikunyah-kunyah sebelum diludahkan. Pengganti rokok. Bau mulutnya memenuhi seluruh mobil.

Pagi-pagi pukul enam kami sampai di Khorog, ibu kota GBAO. Saya sudah berada di salah satu tempat yang paling terpencil dan terlupakan dari peta dunia.

(Bersambung)

Agustinus Wibowo

Sumber

Iklan

2 responses to “Menuju Khorog

  1. di tengah cerita saya mencoba untuk mengecek dimana letak GBAO. dari google map sampai google earth, kota tersebut memang tidak tercatat. cerita anda sungguh menginspirasi saya. mungkin umur kita tidak jauh beda. saya punya cita2 yang sama ketika anda masih kecil, yaitu pergi mengelilingi dunia. entah bagaimana caranya, pendelegasian dari gelar sarjana saya kah, atau hobby musik saya yang mengantarkan ke negeri persia yang anda ceritakan. jujur saja, saya iri dibuatnya. titik nol yang membuat jantung berdegup kencang, karena membayangi manusia yang biasa hidup di dataran rendah malah menerjal kerasnya rintangan Tibet. novel “Omar Khayam dari samarkand” membuat saya jatuh hati terhadap cerita negeri-negeri stan, beserta keindahan yang ada di kota2 tersebut. penyampaian cerita anda sangat2 menggugah hati saya. mungkin sekarang bukan saatnya bermimpi bisa berada di kota dalam cerita anda. karena kerasnya perjuangan anda di tibet memberikan pandangan lain tentang perjuangan hidup sesungguhnya. thx

  2. mengaharukan,menggetarkan,petualangan yang sngat hebat,,iri sekali rasanya,,anda memilih resiko yang menggoyang jiwa,yang asik,,yang tak bisa di katakan lagi,begitu amazingnya hidup anda,,,yang mau sasa tanyakan,,bagaimana anda mencati uang untk keliling dunia tersebt?? anda HEBAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s